September 24th, 2012 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

PENGELOLAAN  HAMA TERPADU (PHT)

MERUPAKAN SISTEM PERLINDUNGAN TANAMAN

RAMAH LINGKUNGAN

 

 I.  PENDAHULUAN

 

Istilah hamatanaman (dalam artian luas) adalah pemberian manusia untuk menyebut binatang, mikro-organisme, dan gulma yang mengganggu tanaman budidaya pertanian. Jadi hamatanaman adalah istilah person manusia, bukan merupakan istilah ekologi. Istilah tersebut diberikan karena OPT tersebut merupakan pesaing (kompetitor) bagi umat manusia terhadap tanaman budidaya pertanian. Oleh karena itu keberadaan hama pada lahan pertanaman tidak dikehendaki oleh manusia. Manusia merasa terganggu oleh hama, sehingga selalu berupaya untuk membunuh bahkan memusnahkan (eradikasi) dari muka bumi ini.

Pada awalnya pengendalian hamatanaman dilakukan secara sederhana yaitu dibunuh langsung dengan tangan, kemudian berkembang menjadi pengendalian yang mengandalkan musuh alami (parasitoid, predator, pathogen serangga, pathogen antagonis, pathogen gulma, serangga pemakan gulma). Pengendalian biologis bagi hamatanaman dimulai sejak abad keempat di Chinadengan memanfaatkan kucing sebagai predator tikus. Kemudian pengendalian tersebut berkembang dengan memanfaatkan berbagai peran musuh alami pada berbagai jenis komoditi pertanian. Pengendalian hayati mencapai kejayaannya pada tahun 1888 pada saat pemerintah Amerika Serikat berhasil memanfaatkan kumbang vedalia, Rodolia cardinalis, untuk mengendalikan hama kutu jeruk, Icerya purchasi, di Kalifornia.

Tuntutan akan kebutuhan pangan bagi umat manusia karena laju pertambahan penduduk yang semakin meningkat, maka pada tahun 1939 ahli kimia Robert Muller dari Swedia menemukan insektisida DDT (Dichloro Diethyl Trichloroethane). Insektisida tersebut sangat efektif membunuh berbagai jenis hama, namun musuh alami yang berada pada lahan tersebut ikut terbunuh, termasuk serangga berguna seperti lebah madu dan serangga-serangga penyerbuk. Selanjutnya peran insektisida organo-sintetik tersebut mampu menggeser peran musuh alami, mengingat insektisida tersebut daya bunuhnya cepat, mampu membunuh banyak jenis hama, sehingga hasilnya lebih cepat dirasakan oleh petani. Pada tahun 1940 dunia mulai berlomba menggunakan pestisida organo-sintetik baik dari senyawa chlorinated hydrocarbon, organo-phosphate, carbamat, maupun synthetic pyrethroid. Mulai tahun 1940 itu juga pengendalian hayati mulai surut, mulai ditinggalkan oleh petani, dan orang berpaling ke pengendalian dengan menggunakan pestisida.

Sebelum tahun 1940 pengendalianhamatanaman masih berorientasi terhadap ekologi, namun setelah menggunakan pestisida, maka orang hanya berorientasi pada pencapaian produktivitas tinggi tanpa memperhatikan ekologi. Penggunaan pestisida di lapangan semakin ditingkatkan baik konsentrasi (ml per liter air), dosis (liter pestisida per hektar), maupun frekuensi (keseringan) aplikasinya. Kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan insektisida yang semakin ditingkatkan tersebut tidak mampu mengatasi permasalahanhama, tetapi sebaliknya menciptakan permasalahan baru yang lebih rumit dan kompleks. Permasalahan tersebut antara lain : timbul ketahanan hama terhadap insektisida, munculnya hama sekunder, timbulnya resurjensi hama, berkurang bahkan hilang berbagai jenis serangga berguna (parasitoid, predator, penyerbuk, lebah madu), adanya residu pestisida dalam tanaman, tanah, air, bahkan udara yang membahayakan keselamatan dan kelestarian alam, timbulnya pencemaran lingkungan hidup, dilihat dari segi biaya (internal dan eksternal) mahal.

Kemudian orang sadar akan dampak negatif penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak rasional itu akan membahayakan keselamatan dan kelestarian manusia, flora, fauna, dan lingkungan hidup. Maka pada tahun 1959 para pakar yang dimotori oleh Stern, Smith, Van den Bosch, dan Hagen mendeklarasikan konsepsi pengelolaan hama terpadu (Integrated Pest Management Concep). Konsep pengelolaanhama terpadu (PHT) menempatkan taktik pestisida merupakan pilihan terakhir apabila taktik-taktik lain sudah tidak mampu lagi menekan laju populasihama atau tingkat kerusakan tanaman di lapangan. Mewajibkan selalu melakukan pemantauan (monitoring) terhadap populasihama atau tingkat kerusakan tanaman dan musuh alamihama di lapangan secara cermat dan rutin. Menggunakan batas Ambang Ekonomi atau Ambang Kendali untuk memastikan perlu atau tidak perlu tingkat populasihama atau kerusakan tanaman di lapangan tersebut diaplikasi dengan pestisida. PHT selalu berorientasi kepada faktor ekologik, ekonomik, dan sosiologik.

 

II.  PENGERTIAN DAN KONSEP PENGELOLAAN HAMA TERPADU

 

A.  Pengertian

Adadua istilah yang sering ditemukan dari PHT, yaitu Pengendalian Hama Terpadu (Integrated Pest Control=IPC) dan Pengelolaan Hama Terpadu (Integrated Pest Management=IPM). Secara praktik pengertian dan penerapan dari kedua istilah tersebut sama, meskipun secara hakiki pengertian dari kedua istilah tersebut berbeda. IPM merupakan perkembangan lebih lanjut dari IPC, dan dalam pergaulan ilmiah IPC telah ditinggalkan, dan selalu menggunakan IPM. Di Indonesia dianjurkan menggunakan istilah Pengelolaan Hama Terpadu meskipun keduanya pelaksanaan dan tujuannya sama.

Pada awalnya PHT merupakan perpaduan antara dua taktik pengendalianhama, yaitu taktik biologis atau hayati dengan taktik pestisida. Perpaduan antara kedua taktik tersebut diperkenalkan oleh Barlett pada tahun 1956. Selanjutnya pada tahun 1959, Stern dan kawan-kawan memperkenalkan PHT, menurut mereka taktik pestisida hanya boleh digunakan apabila populasihamasudah berada pada suatu batas yang telah ditetapkan, yang dikenal sebagai Ambang Ekonomi atau Ambang Kendali. Apabila populasi hama masih berada di bawah batas tersebut maka cukup menggunakan taktik biologis, yaitu memanfaatkan peran parasitoid, predator, atau patogen serangga. Dengan adanya batas populasi tersebut maka perpaduan antara kedua taktik tersebut dapat diterapkan di lapangan.

Perkembangan selanjutnya PHT merupakan perpaduan antara taktik-taktik non pestisida (banyak taktik) dengan taktik pestisida. Taktik-taktik non pestisida secara harmonis dipadukan, dan perpaduan tersebut diharapkan mampu menekan populasihamaselalu di bawah Ambang Ekonomi sehingga keberadaanhamapada pertanaman tidak mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomik. Tetapi apabila taktik-taktik non pestisida tidak mampu mengatasi laju populasihama, sehingga populasihamasampai pada batas Ambang Ekonomi, maka taktik pestisida perlu segera dilakukan. Untuk mengetahui dinamika populasihamadi lapangan, maka perlu dilakukan monitoring (pemantauan) secara rutin dan cermat. Dengan demikian diharapkan petani yang biasanya hanya mengandalkan taktik pestisida sebagai andalan utamanya berangsur-angsur mulai mengurangi aplikasi pestisida, dan mendahulukan taktik non pestisida. PHT adalah perlindungan tanaman yang bersifat ramah lingkungan, dari aspek ekonomik menguntungkan, dan dari aspek sosial dapat diterima dan diterapkan oleh petani.

Difinisi PHT dalam pustaka-pustaka sangat beragam, namun kesemuanya tidak jauh perbedaannya, masing-masing pakar menentukan penekanannya pada aspek-aspek tertentu. Misalnya Smith (1978) menyatakan PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisipliner untuk pengelolaan populasihamadengan memanfaatkan beraneka ragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan. Bottrell (1979) menekankan bahwa PHT adalah pemilihan, perpaduan, dan penerapan pengendalianhamayang didasarkan pada perhitungan dan penaksiran konsekuensi-konsekuensi ekonomi, ekologi, dan sosiologi. Difinisi paling singkat dikemukakan olehKenmore(1989) bahwa PHT sebagai perpaduan yang terbaik. Perpaduan yang terbaik diartikan perpaduan berbagai penerapan taktik pengendalianhamaakan diperoleh hasil yang terbaik, yaitu stabilitas produksi pertanian, kerugian ditekan seminimum mungkin bagi manusia dan lingkungan, serta petani memperoleh penghasilan maksimum dari usaha taninya.

Perencanaan dan penerapan PHT harus selalu memperhitungkan dampaknya terhadap ekologis, ekonomis, dan sosiologis, sehingga secara keseluruhan akan diperoleh hasil perpaduan yang terbaik. Perencanaan, penerapan, dan evaluasi hasil PHT harus mengikuti suatu system pengelolaan yang terkoordinasi dengan baik dari tingkat pusat sampai ke tingkat petani.

 

B.  Mengapa Harus PHT ?

 

Beberapa alasan yang mendorongIndonesiaharus menerapkan PHT dalam rangka mengatasi berbagai permasalahanhamapada berbagai komoditi, antara lain :

  1. Ketidak Berhasilan Cara Pengendalian Hama Konvensional

Yang dimaksud dengan cara pengendalianhamakonvensional adalah cara pemberantasanhamayang hanya mengandalkan pada satu taktik saja yaitu taktik pestisida. Setelah keberhasilan insektisida DDT dan BHC, disusul kemunculan ratusan pestisida sintetik yang efektif sebagai insektisida, acarisida, nematisida, molusida, rodentisida, fungisida, dan herbisida. Setiap keberadaan OPT di sekitar pertanaman dianggap merugikan, sehingga perlu diberantas sampai tuntas. Serangga-serangga yang berada pada pertanaman diasumsikan sebagaihama, walaupun sebagian serangga-serangga tersebut bermanfaat. Keberhasilan produksi pertanian sangat tergantung oleh pestisida, bahkan pestisida sebagai asuransi keberhasilan produksi pertanian. Dengan demikian aplikasi pestisida semakin meningkat, bahkan digunakan secara terjadwal (tidak memperdulikan ada atau tidak populasihama) agar tanaman selalu terlindung oleh pestisida meskipun pada tanaman tersebut belum ada serangga hamanya.

Di Indonesia pestisida dikemas dalam paket teknologi BIMAS pada tanaman padi pada tahun 1970-an, dan penggunaan pestisida merupakan keharusan bagi petani padi. Petani tergiur terhadap pestisida karena selain efektif dan cepat dirasakan hasilnya, juga harga pestisida pada saat itu sangat murah dan terjangkau karena petani memperoleh subsidi pemerintah sebesar 80%. Karena pestisida di pasaran sangat melimpah dan relatif terjangkau, maka penggunaan pestisidapun sangat berlomba tidak hanya terbatas pada komoditi padi, melainkan telah menjalar ke berbagai komoditi baik tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan hortikultura. Sejak tahun 1973 penggunaan pestisida terus meningkat dari tahun ke tahun, dan baru terlihat menurun pada tahun 1987. Penurunan penggunaan pestisida tersebut merupakan dampak dari kebijakan pemerintah, yang isinya antara lain pemerintah mencabut subsidi pestisida dan melarang penggunaan 57 jenis insektisida untuk pertanaman padi, serta pemerintah merintis penerapan PHT padi yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 1986.

Tidak menutup mata bahwa pestisida sangat berperan penting dalam menyelamatkan produksi pertanian terutama tanaman pangan, sehingga dapat mengantarkan bangsaIndonesiamenuju swasembada beras. Namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa pestisida memiliki dampak negatif yang merugikan. Oleh karena itu penggunaan pestisida harus dibatasi seminimum mungkin, bila perlu tidak usah menggunakan pestisida. Tetapi bila terpaksa harus menggunakan pestisida karena populasihamatelah mencapai Ambang Ekonomi yang telah ditetapkan, maka harus dipilih pestisida yang selektif fisiologis dan ekologis. Untuk mengoptimumkan manfaat pestisida maka harus digunakan secara rasional dan bijaksana melalui prinsip PHT.

 

2.  Pola Perlindungan tanaman

Smith (1969) cit. Metcalf dan Luckmann (1975) bahwa terdapat 5 fase (tahap) pola perlindungan tanaman yang terjadi pada budidaya tanaman kapas di Kalifornia, dan 5 fase tersebut dapat diaplikasikan untuk komoditi lain. Adapun ke 5 fase tersebut adalah :

  1. Fase Subsisten.   Pada fase ini tanaman dibudidayakan secara sederhana, belum ada irigasi. Program perlindungan tanaman belum terorganisasi, masih mengandalkan pada pengendalian alami, menanam tanaman yang relatif tahan hama, mengambil hama langsung dengan tangan, praktik kultur teknis, dan jarang menggunakan pestisida. Hasil pertanian saat tersebut rendah, sehingga belum dipasarkan secara luas, hanya untuk dikonsumsi di desa itu atau ditukar (barter) di pasar dengan hasil pertanian lain.
  2. Fase Eksploitasi.    Pada fase ini telah terjadi perluasan lahan pertanian, program perlindungan tanaman telah terbentuk, telah memasukkan varietas baru, juga telah terbentuk pasar baru. Petani telah menggunakan insektisida sintetik untuk memberantas seranggahama. Pestisida merupakan satu-satunya taktik yang diandalkan. Penggunaan pestisida secara berlebihan baik ada OPT ataupun tidak. Pestisida digunakan secara luas dan maksimum. Pada awalnya program tersebut berhasil baik yang ditandai dengan meningkatnya produksi pertanian, baik pangan maupun serat-seratan. Keberhasilan tersebut mendorong petani untuk menggunakan pestisida lebih intensif.
  3. Fase Kritis.    Setelah beberapa tahun memasuki fase eksploitasi, dirasakan dengan semakin sering menggunakan pestisida dengan dosis yang semakin ditingkatkan, maka biaya pemberantasanhamasemakin dirasakan berat. Ditambah adanya ketahananhamaterhadap insektisida, terjadinya resurjensi, dan ledakanhamakedua. Upaya petani mengganti pestisida yang telah diaplikasikan dengan jenis baru semakin besar. Keuntungan riil yang diperoleh oleh petani semakin rendah, bahkan tidak memperoleh keuntungan sama sekali.
  4. Fase Bencana.   Apabila penggunaan pestisida pada fase kritis tersebut berlanjut, maka petani atau pengusaha akan sampai pada fase bencana. Peningkatan frekuensi penyemprotan pestisida, dibarengi dengan peningkatan dosis, pemakaian pestisida baru, pencampuran dua atau lebih jenis pestisida, tetap tidak mampu mengatasi permasalahanhama. Biaya penyemprotan pestisida semakin besar, sedang produksi pertanian rendah, mengakibatkan keuntungan semakin kecil. Ditambah masalah residu pestisida terutama dalam hasil tanaman, mengakibatkan produk pertanian tersebut tidak laku di pasaran, karena akan mengganggu kesehatan manusia.
  5. Fase PengelolaanHamaTerpadu.   Agar sasaran produksi dapat tercapai dan penghasilan petani tercapai, dan mau belajar pengalaman pahit di atas, maka petani akan mau menerima dan menerapkan PHT. Dengan menerapkan PHT biaya produksi dapat ditekan sampai minimum, produksi pertanian dibuat optimum, dan keuntungan petani atau pengusaha diupayakan maksimum.    Menurut Smith fase-fase tersebut belum tentu dilalui secara tegas, bahkan dua fase mungkin berlangsung bersamaan. Untuk Negara berkembang Smith menganjurkan untuk tidak usah melalui fase kritis dan bahaya, tetapi langsung saja ke fase kelima yaitu PHT.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Tuntutan Akan Lingkungan Hidup Sehat

Pestisida adalah bahan racun dan apabila penggunaannya tidak terkendali maka akan mencemari lingkungan hidup, dan sangat membahayakan kelestarian daya dukung lingkungan maupun kesehatan masyarakat. Hasil penelitian tentang residu pestisida diIndonesiaoleh Perguruan Tinggi, Lembaga-Lembaga Penelitian, maupun Dinas-Dinas menunjukkan bahwa residu pestisida telah ada dimana-mana. Residu pestisida telah mencemari tanah, air sungai, air sumur, air minum, bahkan ada pada bagian tanaman yang dikonsumsi misalnya hasil hortikultura dan buah-buahan. Meskipun residu tersebut masih di bawah batas toleransi yang ditetapkan oleh WHO, namun penggunaan pestisida tersebut perlu dikendalikan agar tidak mencapai pada kadar yang membahayakan.

Dengan menerapkan PHT maka pencemaran lingkungan hidup oleh pestisida dapat ditekan serendah-rendahnya. Kebijakan pemerintah untuk menerapkan PHT secara nasional pada tahun 1986 mendapat penghargaan dan dukungan dari dunia internasional.

4. Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Inpres No. 3 tahun 1986 yang merupakan dasar hukum berlakunya penerapan PHT secara nasional, dan Undang-Undang No. 12 tentang system budidaya tanaman. Dengan keluarnya kebijakan pemerintah tersebut maka penerapan dan pengembangan PHT di Indonesia harus berjalan lanjut karena telah memperoleh dukungan politik dan hukum dari pemerintah.

C.  Konsep PengelolaanHamaTerpadu

  1. Memahami Ekosistem Pertanian

Ekosistem adalah suatu habitat dimana organisme hidup dan faktor abiotik mengadakan interaksi sehingga mampu membentuk energi dan pola dalam siklus yang berjalan secara kontinyu (NAS, 1969 cit. Metcalf dan Luckmann, 1975). Ekosistem pertanian atau juga dinamakan agroecosystem memiliki keragaman tanaman maupun binatang sangat terbatas, jauh berbeda dengan ekosistem alami yang memiliki keragaman flora dan fauna sangat beragam seperti terlihat dalam ekosistem hutan belantara. Pada umumnya ekosistem pertanian hanya terdiri dari beberapa spesies tanaman dan hanya ada satu atau beberapa spesieshamamayor, sehingga terjadinya ledakanhamasangat dimungkinkan. Praktik budidaya tanaman mengarah ke pola monokultur dan dalam satu hamparan luas hanya terdapat 1-4 spesies tanaman dan 4-5 spesies hama mayor.

Manusia telah memanipulasi ekosistem pertanian secara intensif, baik cara bercocok tanam, maupun memasukkan bahan energi tinggi seperti pupuk dan pestisida. Akibatnya ekosistem pertanian menjadi peka oleh seranganhama, sehingga memungkinkan terjadinya ledakanhamamengingat tersedianya sumber pakan berlimpah dalam kurun waktu lama.

Memahami sifat ekosistem pertanian di atas maka dalam PHT ditekankan adanya keaneka ragaman (deversifikasi) tanaman, menghindari pola tanam monokultur dan terus-menerus, serta mengurangi masukan bahan energi tinggi (pupuk buatan dan pestisida sintetik).

 

2.  Perbandingan (Nisbah) Manfaat dan Biaya Pengendalian Hama

Manfaat pengendalian adalah besarnya nilai tambah yang diperoleh dari hasil pengendalianhama. Biaya pengendalianhamaadalah biaya yang dikeluarkan dalam rangka menanggulangi masalahhamadengan tujuan mempertahankan produksi atau hasil pertanian.

Nisbah manfaat (benefit) dan biaya (cost) paling tidak bernilai 1, artinya dalam setiap kali melakukan pengendalianhama maka manfaat yang diperoleh nilainya paling tidak sama dengan biaya pengendalianhama yang telah dikeluarkan. Apabila terjadi biaya pengendalianhama lebih besar disbanding manfaat yang diperoleh maka usaha tersebut akan rugi ditinjau dari segi ekonomik, oleh karena itu  Stern dan kawan-kawan saat itu menganjurkan untuk tidak perlu melakukan tindakan pengendalian. Namun meskipun secara ekonomik dinilai tidak menguntungkan, kadang-kadang pemerintah, pengusaha, atau petani tetap melakukan tindakan pengendalianhama dengan pertimbangan lain yaitu pertimbangan politis seperti stabilitas nasional terhadap kebutuhan pangan secara nasional atau mempertahankan swasembada pangan.

3.  Perbandingan Manfaat dan Risiko

Risiko adalah dampak negatif yang dirasakan akibat penggunaan pestisida yang tidak rasional dan bijaksana. Risiko ini dapat berupa berkurang atau hilangnya serangga bermanfaat seperti musuh alamihamadan serangga penyerbuk, dekompositor, dan lebah madu. Risiko dapat juga berupa kecelakaan pada petani yang bersifat akut sehingga menyebabkan sakit atau kematian sebelum waktunya, menurunnya kesehatan petani atau tenaga penyemprot, atau konsumen. Risiko pestisida yang bersifat khronis dirasakan setelah beberapa tahun atau beberapa puluh tahun setelah itu seperti timbulnya penyakit “aneh” pada petani atau masyarakat misalnya badan gemetar berkepanjangan (tremor), rabun mata, kanker, dan penyakit lain.

Risiko tersebut merupakan biaya eksternal (external cost) yang sangat sulit dinilai dengan uang. Kalaupun dapat hanya pendekatan secara kasar, dengan pendekatan biaya pengganti (opportunity cost). Risiko pestisida banyak dirasakan pada lingkungan hidup baik yang bersifat hidup (biotik) maupun abiotik.

PHT mengupayakan risiko pengendalian taktik pestisida sekecil mungkin, melalui berbagai tindakan antara lain : pengendalian dengan pestisida dilakukan sebagai alternatif terakhir bila taktik non pestisida tidak mampu menekan populasi hama, dengan batasan Ambang Ekonomi. Idealnya PHT tidak menggunakan pestisida, tetapi bila terpaksa menggunakan maka harus dipilih pestisida yang efektif fisiologis dan ekologis, tidak bersifat persisten, memiliki daya racun (residual effect) pendek, saat aplikasi tidak boleh makan/minum/ merokok, menggunakan peralatan lengkap (celana panjang, baju/kaos panjang, kaos tangan plastik/karet, sepatu boot, topi, masker hidung/ mulut), setelah selesai badan dan alat-alat segera dibersihkan dengan sabun berulang-ulang sampai bersih. Pestisida dan alat-alat aplikasi disimpan digudang jauh dari anak-anak, hewan piaraan, dan makanan.

4.  Kesadaran Terhadap Sedikit Populasi Hama di Tanaman

PHT merupakan upaya pengelolaan populasihamasampai batas yang tidak merugikan ditinjau dari segi ekonomis, sekaligus pengelolaan dan pelestarian ekologis. Oleh karena itu PHT selalu menggunakan batas Ambang Ekonomi sebagai aras populasi dimana pada aras tersebut penggunaan pestisida dibenarkan, ini mengandung arti bahwa PHT tidak menekan populasi sampai habis (nol) tetapi masih menerima adanya populasi hama di lapangan selama populasi tersebut masih dalam batas toleransi. Hal ini sangatlah penting dalam rangka menjaga keseimbangan alami, memberi kesempatan musuh alamihamauntuk memperoleh pakan dari populasihamayang berada di bawah AE.

5.  Membuat Tanaman Lebih Sehat

PHT melakukan budidaya tanaman sehat, mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih/bibit unggul dan tahan terhadap hama/penyakit, penyiapan pembibitan, penanaman, pemeliharaan (pengairan/ pengeringan lahan, pemupukan berimbang, sanitasi selektif, pemantauan populasi hama/penyakit/gulma/musuh alami), pemanenan dan pengelolaan pasca panen. Semua upaya tersebut bertujuan agar tanaman budidaya relatif lebih sehat, sehingga mampu menahan seranganhama/ penyakit, dan gulma.

6.  Melakukan Pemantauan Lahan

Pemantauan populasi hama/penyakit/gulma atau tingkat kerusakan tanaman wajib dilakukan, kemudian hasil pemantauan tersebut dibandingkan dengan AE yang telah ditetapkan. Apabila populasihama/ penyakit/gulma atau tingkat kerusakan tanaman telah sampai pada aras AE yang telah ditetapkan maka penyemprotan dengan pestisida perlu dilakukan dan secara rasional tindakan tersebut dibenarkan. Di samping itu perlu dilakukan pemantauan juga terhadap populasi musuh alami hama/penyakit/gulma, dan apabila diperoleh hasil bahwa populasi musuh alami tersebut cukup tinggi maka meskipun aras populasi hama/penyakit/gulma hasil pemantauan sudah sampai pada aras AE, tetapi penyemprotan pestisida perlu ditangguhkan untuk memberi kesempatan pada musuh alami tersebut beraksi.

Kondisi lingkungan perlu pula dipantau mengingat faktor lingkungan sangat berperan terhadap naik turunnya populasihama/ penyakit/gulma. Faktor lingkungan tersebut misalnya suhu, kelembaban, curah hujan, intensitas penyinaran matahari, serta arah dan kecepatan angin.

Pemantauan harus dilakukan secara rutin dan cermat. Rutin artinya pemantauan dilakukan secara terus-menerus selama satu musim tanam dalam interval tertentu misalnya satu minggu sekali. Interval pemantauan akan diperpendek apabila populasi hama/penyakit/gulma telah mendekati AE. Cermat artinya pemantauan tersebut dilakukan secara teliti dan serius, dengan metode pengamatan yangbakudan benar.

7.  Sosialisasi Konsep PHT

PHT merupakan suatu konsep yang penerapannya masih perlu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, mengingat tiap-tiap daerah memiliki agroecosystem yang khas yang kadang berbeda dengan daerah lain. Konsep PHT secara nasional sama, namun penerapan di lapangan perlu pengembangan dan penyesuaian dengan kondisi setempat (lokal).

Pada saat merintis penerapan PHT memerlukan percontohan konkrit, dalam bentuk demonstrasi plot maupun demonstrasi area. Kemudian pemerintah mengadakan SL PHT (Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu) bagi kelompok tani atau petani maju. Upaya ini dilakukan dalam rangka mengenalkan PHT secara luas kepada petani agar para petani mau dan mampu melaksanakan PHT tersebut dengan penuh kesadaran, bukan paksaan. PHT dilaksanakan secara koordinasi dari tingkat pusat sampai daerah. Jaringan PHT melalui dua jalur, yaitu jalur pusat ke daerah dan dari daerah ke pusat. Secara yuridis penerapan PHT memiliki dasar hukum, yaitu Inpres No. 3 tahun 1986. Untuk mempercepat informasi tentang PHT kepada petani perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat luas, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, kursus-kursus singkat, dan memperluas penyelenggaraan SL PHT.

 

D.  Unsur-Unsur Dasar dan Taktik PHT

Watson et.al. (1975) membedakan dua kelompok pengetahuan dan informasi yang perlu diketahui dan dikembangkan. Dua kelompok tersebut adalah (1) Unsur-unsur dasar PHT, terdiri dari empat yaitu (a) pengendalian alami, (b) pemantauan hama, (c) aras ekonomik, (d) biologi dan ekologi hama. (2) Taktik-taktik PHT meliputi taktik non pestisida dan taktik pestisida.

Unsur-unsur dasar harus ada setiap kali menerapkan PHT, sedang taktik PHT perlu dicari taktik-taktik yang kompatibel agar dapat bekerja secara optimal dengan mempertimbangkan kondisi agroecosystem setempat. Selanjutnya kedua kelompok tersebut dapat digambarkan sebagai suatu bangunan yang disangga oleh empat pilar dari unsur-unsur dasar, dan diberi atap dari taktik-taktik PHT. Kesemuanya itu bermuara untuk melindungi dan melestarikan agroecosystem dari pencemaran pestisida.

 

III.  HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

 

Penerapan PHT melalui model sengkelit tertutup (closed loop system), terdiri dari tiga anasir yaitu anasir monitoring, anasir penentu keputusan, dan anasir pelaksana (tindakan). Masing-masing anasir mempunyai tugas dan fungsi sendiri-sendiri. Anasir monitoring bertugas mengumpulkan data populasihama atau tingkat kerusakan tanaman, populasi musuh alami, serta kondisi lingkungan kawasan yang dikelola. Data yang telah diperoleh dipasokkan kepada anasir penentu keputusan, yang bertugas mengolah data tersebut, dan mengambil keputusan tentang pengelolaanhama. Hasil olahan data tersebut disampaikan kepada anasir pelaksana (tindakan) dalam bentuk rekomendasi tentang pengelolaanhama terpadu. Selanjutnya anasir pelaksana menerapkan rekomendasi tersebut pada tanaman budidayanya dalam agro-ekosistem. Setelah rekomendasi dijalankan, maka anasir monitoring melakukan evaluasi tentang efektivitas PHT tersebut di lapangan. Data hasil evaluasi disampaikan kepada anasir penentu keputusan, untuk dianalisis dan diolah kembali, hasil olahan tersebut ke luar sebagai rekomendasi baru yang sarat dengan perbaikan-perbaikan. Kemudian anasir pelaksana menerapkan rekomendasi baru tersebut pada lahan pertaniannya. Kembali anasir monitoring mengevaluasi hasil pelaksanaan PHT tersebut, kemudian diserahkan kepada anasir penentu keputusan untuk kembali dianalisis, selanjutnya keluar rekomendasi baru lagi, demikian seterusnya sehingga program tersebut berlangsung dengan alur tertutup yang berjalan terus menerus.

 

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pada satu jenis komoditi selalu diserang oleh banyak jenis hama. Misalnya pada komoditi padi banyak hama yang ditemukan menyerang tanaman tersebut, antara lain : nematoda puru akar padi (Meloidogyne graminicola), penggerek batang padi (Scirpophaga innotata, Scirpophaga incertulas, Chilo suppressalis, Sesamia inferens, C. polychrysus), Kepinding tanah (Podops vermiculata), walang sangit (Leptocorisa oratorius), wereng coklat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Nephotettix virescens), belalang (Valanga nigricornis, Oxia chinensis), ulat grayak (Spodoptera mauritia), hama putih (Cnaphalocrosis medinalis), hama putih palsu (Nymphula depunctalis), tikus sawah (Rattus rattus argentiventer), burung pemakan biji, dan masih banyak lagi. Kemudian muncul pertanyaan hama mana yang akan menjadi sasaran PHT ?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat, maka perlu hama-hama tersebut dikelompokkan berdasarkan pada status hama. Status hama dibedakan menjadi lima, yaitu : (1) Hama utama atau hama kunci (Main Pest atau Key Pest), (2) Hama kedua atau hama kadang-kadang (Secondary Pest atau Occationally Pest), (3) Hama potensial (Potentially Pest), (4) Hama migran (Migrant Pest), (5) Bukan hama (Non Pest). Sasaran PHT adalahhama utama atauhama kunci, tetapi statushama lain sepertihama kedua,hama potensial, danhama migran perlu diperhatikan dan diwaspadai karena statushama tersebut sangat peka terhadap pengendalian dan perubahan kondisi lingkungan.

Aras Ekonomik penting dalam PHT meliputi AE (Ambang Ekonomi) dan ALE (Aras Luka Ekonomi). Pada prinsipnya AE adalah batas populasihamayang memerlukan tindakan pengendalian dengan taktik pestisida. Taktik pestisida perlu dilakukan untuk mencegah agar populasi tidak pernah sampai ke ALE. Apabila populasihamasampai ke ALE berarti petani atau pengusaha akan menderita kerugian sebagai dampak seranganhama. PHT bertujuan mengupayakan populasihamasasaran selalu berada di bawah garis AE melalui berbagai taktik pengendalian non pestisida yang kompatibel. Gambar di bawah menunjukkan penerapan taktik-taktik pengendalianhamadalam PHT dalam kaitannya dengan AE dan ALE.

Perlu dilakukan pemantauanhamayang cermat dan rutin untuk mengetahui kedudukan populasihamadi lapangan pada saat itu dikaitkan dengan garis AE dan ALE, dalam rangka perlu atau tidak disemprot dengan pestisida.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

September 17th, 2012 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

TAKTIK-TAKTIK PENGENDALIAN HAMA

DALAM PERLINDUNGAN TANAMAN TERHADAP

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

KELOMPOK HAMA

PENDAHULUAN

Taktik pengendalian hama adalah teknik atau cara mengurangi populasi hama atau tingkat kerusakan tanaman akibat serangan hama dengan upaya-upaya tertentu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif), dan tindakan penanganan masalah hama(kuratif). Tindakan preventif dapat diartikan mencegah masuknya jenis hama“baru” dari satu negara ke negara lain, atau dari satu pulau ke pulau lain, atau dari satu wilayah ke wilayah lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan Karantina Tumbuhan, atau melalui perundang-undangan atau peraturan-peraturan. Cara ini lebih dikenal dengan taktik Legislatif. Namun secara sempit preventif diartikan mencegah serangan hamayang telah ada di areal pertanaman dengan berbagai tindakan. Membungkus buah nangka dengan daun kelapa dimaksudkan untuk menghindari buah terhadap serangan lalat buah Dacus spp.. Memagari keliling petak pembibitan padi dengan plastik setinggi satu meter merupakan upaya preventif terhadap serangan hama tikus sawah, Rattus rattus argentiventer.

Tindakan kuratif dimaksudkan upaya penanganan permasalahanhamasetelah terjadi serangan. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara atau taktik mekanis, fisis, kultur teknis, penanaman varietas tahanhama, pemanfaatan musuh alamihama, penggunaan senyawa-senyawa atraktan (menarikhama), repelen (mengusirhama), feromon, dan rekayasa genetika, serta penggunaan pestisida. Secara singkat taktik-taktik tersebut akan diuraikan satu per satu seperti di bawah ini.

  1. TAKTIK MEKANIS

 

Adalah upaya pengurangan populasi hamaatau tingkat kerusakan tanaman dengan menggunakan cara atau teknik mekanis. Taktik ini dapat dilakukan antara lain : mencari dan membunuh langsung, seperti yang pernah dilakukan terhadap ulat daun kubis baik Plutella xylostella maupun Crocidolomia binotalis. Taktik ini termasuk menghalangi peletakan telur atau perusakan larva, misalnya membungkus buah-buah (jambu, belimbing, nangka, mangga, dsb.) selagi masih muda dapat menghalangi peletakkan telur lalat buah Dacus spp. Pembungkusan buah kakao muda dengan plastik dapat menghalangi peletakan telur ngengat buah kakao Conopomorpha cramerella Snellen. Penggelaran mulsa jerami pada lahan yang telah ditanam benih kedelai dapat menghalangi peletakan telur hama lalat bibit kacang Ophiomyia phaseoli ataupun Melanagromyza sojae.

Taktik mekanis juga dapat dilakukan dengan memotong dan menghancurkan bagian tanaman terserang. Hal tersebut telah lazim dikerjakan dengan memotong pucuk tanaman tebu yang terserang penggerek pucuk Scirpophaga nivella, hingga larvanya ikut bagian terpotong kemudian bagian ini dihancurkan atau untuk pakan ternak. Pekerjaan tersebut dikenal dengan nama Rogesan. Untuk mengendalikan ulat daun kelapa, Artona catoxantha, dapat dilakukan dengan memotong pelepah daun terserang kemudian menghancurkannya. Pekerjaan tersebut dinamakan Progolan. Pengendalian bubuk buah kopi, Hypothenemus (=Stephanoderes) hampei, dapat dilakukan dengan memanen seluruh biji kopi, kemudian biji terserang disortir dan hamanya dimatikan. Pekerjaan tersebut dinamakan Rampasan.

Taktik mekanis juga dapat dilakukan dengan menghalangi kehadiran dan serangan hama, misalnya memasang kerodong kasa raksasa pada lahan pertanaman tembakau Vorstenlanden dalam rangka menghindari berbagai jenis hama pemakan daun seperti ulat daun tembakau (Spodoptera litura, Agrotis ypsilon, Helicoverpa armigera, Plusia sp.) maupun belalang (Valanga nigricornis, Oxia chinensis) yang dilakukan di daerah Klaten bertujuan agar daun tembakau utuh serta tidak mengandung residu insektisida.

Taktik mekanis dapat dilakukan dengan membongkar sarang tikus sawah,Rattus rattus argentiventer, di pematang-pematang  lalu menangkap dan membunuh tikus-tikus sawah yang berlarian dari sarang. Sering menggunakan jasa anjing untuk mengejar tikus yang berlarian. Pekerjaan tersebut dinamakan Gropyokan.

Taktik mekanis juga dapat dilakukan dengan cara mengusir binatang hamadari pertanaman. Misalnya dengan memasang orang-orangan di tengah areal pertanaman padi menjelang panen kemudian digerak-gerakkan dengan tali rafia untuk mengusir burung pipit (Munia sp.), burung gelatik (Padda oryzivora), dan burung gereja (Passer montanus malaccensis). Pada tanaman kelapa di pedesaan sering dipasang goprak, yaitu alat yang terbuat dari bambu yang dipasang pada pelepah daun kelapa, yang pada ujungnya diikatkan tali ke bawah. Apabila tali digerakkan dari bawah maka akan timbul bunyi prak prak prak yang dapat mengusir hama tupai (bajing), Callosciurus notatus.

 

  1. TAKTIK FISIS

 

Adalah teknik atau cara pengendalian hama dengan memanfaatkan faktor-faktor fisis yang tersedia. Taktik tersebut dapat dilakukan antara lain dengan mnggunakan cahaya, misalnya dengan menangkap ngengat penggerek batang padi kompleks menggunakan lampu petromaks atau obor. Selanjutnya ngengat tertangkap dimatikan. Lampu perangkap (Light trap) kerap kali dipasang di areal pertanaman untuk menangkap seranggahama dewasa yang tertarik cahaya lampu. Setelah diketahui jenis dan jumlah serangga yang tertangkap kemudian dimatikan. Disamping dapat mengurangi populasi serangga dewasa (induk) juga bermanfaat untuk monitoring dan peramalanhama.

Taktik fisis juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran sinar radioaktif. Misalnya dengan menggunakan sinar X atau sinar gamma yang ditembakkan pada karung yang berisi beras, gabah, jagung, gaplek, atau biji kacang-kacangan dapat membunuh hama-hama pasca panen yang menyerang.

Taktik fisis juga dapat dilakukan dengan menggunakan suhu, misalnya menggunakan suhu panas di dalam ruang khusus dapat mematikan hama-hama pasca panen yang menyerang. Hal tersebut ditujukan bagi komoditi-komoditi yang tahan terhadap suhu panas seperti beras, gabah, jagung, gaplek, biji kacang-kacangan. Sedang bagi komoditi yang tidak tahan panas seperti sayur-sayuran dan buah-buahan dapat dilakukan dengan menggunakan suhu dingin.

Taktik fisis dapat dilakukan dengan menggunakan air, dengan menggenangi lahan dapat mematikan hama-hama  dalam tanah seperti lundi, ulat grayak, telur-telur belalang, jengkerik, gangsir, nematoda parasit tanaman. Sebaliknya bagi serangga hamayang menyukai air seperti hamaputih padi, Nymphula depunctalis, perlu dilakukan pengeringan sementara.

Di negara-negara maju telah memanfaatkan gelombang suara, dalam frekuensi tertentu dapat mengusir burung-burunghama.

 

  1. TAKTIK KULTUR TEKNIS

 

Adalah pengurangan populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman dengan melakukan cara bercocok tanam yang baik dan benar. Bercocok tanam yang baik dan benar bertujuan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi sekaligus mencegah atau mengendalikanhama. Dengan kata lain adalah bahwa setiap langkah dalam pengerjaan budidaya tanaman harus selalu berorientasi pada peningkatan produktivitas tanaman dan pengendalianhama. Taktik ini dapat dilakukan dengan :

  1. Mengupayakan agroekosistem tidak sesuai bagi kehidupanhama, misalnya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

(1)   Sanitasi, artinya membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman yang masih hidup (singgang-singgang), sisa-sisa tanaman yang telah mati, tumbuhan yang menjadi inang alternatifhama, bagian tanaman terseranghama, bagian tanaman yang jatuh di permukaan tanah (daun, buah).

(2)   Eradikasi, artinya menghancurkan tanaman terserang parah yang tidak mungkin lagi dapat diselamatkan (puso), menghancurkan habitat yang digunakan sebagai tempat bertelur, tempat hidup larva, dan pupa.

(3)   Mengolah lahan, disamping bertujuan agronomik sedapat mungkin dikaitkan dengan upaya pengurangan populasihamadalam tanah (lundi, ulat grayak, jengkerik, gangsir, nematoda parasit). Bila tanah diolah misalnya dicangkul atau dibajak maka tanah posisinya terbalik, hama-hama dalam tanah akan terlihat dan mati dimakan semut atau burung atau mati karena tersengat terik matahari.

(4)   Pengelolaan air, dapat dilakukan penggenangan atau pengeringan sesuai kebutuhan tanaman dan pengendalianhama(seperti taktik fisis).

  1. Mengganggu kelangsungan penyediaan kebutuhan hiduphama. Taktik ini dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut :

(1)   Rotasi (gilir) tanaman, berarti memutus siklus hidup suatu jenishama. Pola tanam padi-padi-palawija, atau padi-palawija-diberokan, dapat mengurangihamautama padi (wereng coklat dan tikus sawah). Demikian juga gilir varietas padi dapat mencegah munculnya biotipe pada wereng coklat.

(2)   Pemberoan lahan, dimaksudkan lahan tidak ditanami untuk beberapa bulan, agarhamatidak memperoleh sumber pakan yang sesuai.

(3)   Menanam serempak, tujuannya adalah agar persediaan sumber pakan di lapangan tersedianya hanya dalam waktu yang pendek, sehingga ada periode kekosongan pakan bagihama. Cara tersebut lebih dianjurkan untuk tanaman padi, dalam rangka mengendalikanhamawereng coklat dan penggerek batang padi.

(4)   Mengatur jarak tanam, dimaksudkan menanam dengan jarak tanam yang tepat agar produktivitas tinggi tetapi tidak mendorong perkembanganhamautama.

(5)   Membuat fenologi tanaman tidak sinkron dengan fenologihama, cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan atau mengundurkan saat tanam atau saat panen.

(6)   Menghalangi peletakkan telur, cara ini telah dilakukan dengan menutup lahan yang telah ditanam benih kedelai menggunakan mulsa jerami atau mulsa lain dalam rangka menghalangi peletakan telurhamalalat bibit (lalat kacang).

  1. Mengupayakan populasihamamenjauhi pertanaman pokok, cara ini dapat dilakukan dengan :

(1)   Menanam tanaman perangkap, misalnya menanam sederet tanaman jagung pada areal  pertanaman kapas dapat menarik ngengat Helicoverpa armigera untuk meletakkan telurnya di permukaan rambut jagung, dengan demikian dapat mengurangi tingkat serangan penggerek buah (boll) kapas.

(2)   Memanen secara bertahap, bagi tanaman yang dapat dipanen lebih dari satu kali. Hal tersebut dimaksudkan agar populasihamatidak berpindah secara serempak ke pertanaman terdekat.

  1. Mengurangi tingkat kerusakan tanaman, tindakan ini dapat dilakukan antara lain dengan :

(1)   Meningkatkan toleransi tanaman inang, cara ini dilakukan dengan memupuk tanaman secara berimbang antara N, P, dan K, serta penambahan unsur-unsur mikro untuk meningkatkan kesehatan tanaman dengan harapan toleransi tanaman terhadap serangan hama menjadi meningkat pula. Sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organic dan menjaga kesehatan tanah.

(2)   Mengubah jadwal panen, dengan panen lebih awal maka akan mengurangi tingkat kerusakan tanaman dibanding dengan yang dipanen terakhir.

 

  1. TAKTIK PENANAMAN TANAMAN TAHAN HAMA

 

Batasan tentang tanaman tahan hamaadalah tanaman yang memiliki sifat morfologi dan atau sifat biokimia spesifik yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan atau metabolisme serangga, sehingga mengakibatkan tingkat kerusakan tanaman tahan lebih ringan dibanding tanaman tidak tahan pada spesies tanaman sama, populasi hamasama, serta kondisi lingkungan sama. Di alam tanaman tahan hamadapat berasal dari faktor lingkungan yang dikenal sebagai ketahanan ekologis. Ketahanan tersebut tidak dapat diturunkan, bersifat sementara, sering disebut ketahanan palsu (Pseudoresistance). Ketahanan ekologis dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Ketahanan Fenologi asinkroni
  2. Ketahanan induksi

Disamping ketahanan ekologis dikenal ketahanan genetis. Sifat ketahanan genetis dapat diturunkan dari generasi ke generasi dan bersifat permanen.

Berdasarkan sumber ketahanannya, Painter (1951 cit. Metcalf (1975) membedakan ketahanan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Non Preference (tanaman tidak disukai baik sebagai sumber pakan maupun tempat meletakkan telur bagi serangga hama). Kogan (1982) memberi istilah lebih tepat, yaitu antixenosis (menolak kedatangan hamabaik untuk makan maupun meletakkan telur). Terdapat dua antixenosis, yaitu antixenosis morfologik (memiliki bentuk morfologi tidak disukai hama, misalnya daun kapas yang berbulu lebat tahan terhadap hamawereng Empoasca fabae), dan antixenosis kimiawi (mengandung senyawa allomone, misalnya tanaman kapas yang mengandung gosipol tahan terhadap penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera).
  2. Antibiotik (tanaman disukai olehhama, tetapi mengandung senyawa-senyawa yang merugikanhamadalam proses metabolismenya).Hamayang telah memakan tanaman yang berbasis antibiotik akan menunjukkan simtom (gejala) mulai dari yang paling parah (akut) sampai yang paling ringan (sub kronis). Simtom tersebut adalah sebagai berikut :

(1)   Larva muda mati beberapa saat setelah mengkonsumsi tanaman

(2)   Larva gagal menjadi pupa

(3)   Pupa gagal menjadi dewasa atau imago

(4)   Dewasa kerdil, segera mati dan tidak mampu bertelur

(5)   Dewasa mampu bertelur tetapi tingkat fekunditas rendah, fertilitas telur rendah

(6)   Umur dewasa (longivitas) pendek

c.   Toleran, tanaman disukai hama tetapi memiliki kemampuan menyembuhkan luka akibat serangan hama atau memiliki sifat regenerasi tinggi, sehingga tanaman tetap berproduksi tinggi tidak kalah dengan tanaman yang tidak terserang.

Ketahanan genetik dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Ketahanan vertikal, bersumber pada satu atau beberapa gen tahan, memiliki daya ketahanan tinggi, sifat ketahanannya mudah dipatahkan karenahamacepat membentuk biotipe baru, dan hanya efektif untuk satu spesieshama.
  2. Ketahanan horizontal, bersumber pada banyak gen tahan, daya ketahanannya sedang, sifat ketahanannya tidak mudah dipatahkan, dan efektif untuk beberapa spesieshama.

Pembagian lain dikemukakan oleh Day (1972) membagi ketahanan menjadi empat, yaitu :

  1. Ketahanan oligogenik; bila hanya satu gen yang mengendalikan sifat tahan disebut ketahanan monogenik, sedang bila terdiri dari 2 atau 3 gen pengendali dinamakan ketahanan oligogenik.
  2. Ketahanan poligenik; memiliki banyak gen yang mengendalikan sifat tahan.
  3. Ketahanan sitoplasmik; mutasi terjadi pada sitoplasma, memiliki ketahanan terhadap penyakit tanaman, sedang padahamabelum pernah dilaporkan.
  4. Ketahanan ontogenik; ketahanan timbul bersamaan meningkatnya umur tanaman, biasanya semakin tua umur tanaman ketahanannya semakin meningkat karena terkait dengan meningkatnya kandungan antibiotik.

Tanaman tahanhamadapat diperoleh melalui :

  1. Seleksi lingkungan, terjadi karena tekanan lingkungan terus menerus, tanaman mengalami adaptasi dan bersifat tahan
  2. Persilangan (breeding), antara tanaman tahanhama dengan tanaman peka tetapi memiliki pertumbuhan agronomik dan produktivitas tinggi, sehingga diperoleh tanaman tahanhama yang memiliki pertumbuhan agonomik dan produktivitas tinggi.
  3. Mutasi, mengalami perubahan dari tanaman peka menjadi tahan dan sifat ketahanannya diturunkan. Dibedakan menjadi tiga, yaitu mutasi spontan (tiba-tiba terjadi mutasi, yang sifatnya alami); mutasi induksi (dirangsang dengan senyawa kimia seperti kolkhisin); mutasi karena ditembak dengan sinar X atau sinar gamma (Co60)
  4. Rekayasa genetik, tanaman peka dengan produktivitas tinggi dimasuki DNA Bacillus thringiensis misalnya maka akan diperoleh tanaman tahan terhadaphama ulat (Lepidoptera) dan memiliki produktivitas tingggi. Pada era bioteknologi saat ini hal tersebut dikenal sebagai transgenik.

Tanaman tahanhamaberperan penting dalam pengendalianhamakarena memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut :

  1. Mudah diadopsi oleh petani
  2. Ekonomis, karena tidak memerlukan biaya tambahan
  3. Kompatibel (dapat dipadukan) dengan taktik pengendalian lain
  4. Bersifat komulatif, spesifik, dan persisten
  5. Ramah lingkungan
  6. Pelaksanaannya mudah

Tetapi tidak menutup mata bahwa tanaman tahanhamamemiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut :

  1. Waktu perakitannya lama (5-10 tahun)
  2. Plasma nutfah sebagai sumber gen tahan langka keberadaannya
  3. Patahnya ketahanan (tanaman menjadi peka) akibat munculnya biotipe baru
  4. Kadang terjadi konflik, disatu pihak tahan terhadaphamautama tetapi dilain pihak peka terhadaphamasekunder. Hal tersebut akan mendoronghamasekunder menjadihamautama.

 

  1. TAKTIK PEMANFAATAN PERAN MUSUH ALAMI

 

Yang dimaksud dengan musuh alami adalah organisme yang sumber pakannya berupahamatanaman. Musuh alami dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu : Parasitoid, predator, dan patogenhama. Musuh alami berupa makhluk hidup, sehingga taktik tersebut juga dikenal sebagai taktik pengendalian hayati atau pengendalian biologis. Parasitoid dan predator berupa serangga atau binatang lain, sedang patogenhamaberupa mikroorganisme (jamur, bakteri, virus, protozoa).

Perlu dibedakan antara pengendalian hayati atau biologis (Biological Control) dengan pengendalian alami (Natural Control) yang kerap kali rancu. Pengendalian hayati adalah pemanfaatan musuh alami (parasitoid, predator, atau patogenhama) untuk menekan populasi hama atau tingkat kerusakan tanaman sampai ke batas yang tidak merugikan secara ekonomik. Jadi dalam hal ini orang atau petani sadar dan ikut campur tangan dalam memanfaatkan peran musuh alami tersebut. Pengendalian alami adalah pengaturan populasi hama sampai ke titik terendah atau tertinggi karena aksi faktor lingkungan (faktor biotik maupun faktor abiotik). Pengendalian alami adalah murni berasal dari alam, orang atau petani tidak tahu menahu dan tidak ikut campur tangan di dalam aksi tersebut.

Parasitoid adalah serangga atau binatang lain (misalnya nematoda) yang hidup pada atau di dalam inang (hama), yang mengakibatkan kematian inangnya secara perlahan-lahan. Dikenal ektoparasitoid apabila parasitoid tersebut berada dan menyerang dari luar tubuh inangnya, sedang endoparasitoid apabila parasitoid berada dan menyerang di dalam tubuh inangnya.

Parasitoid serangga dewasa atau imago hidup bebas di alam, mencari pakan berupa madu, nektar, atau polen; melakukan perkawinan, dan meletakkan telurnya di luar atau di dalam tubuh inang biasanya dengan bantuan ovipositor. Satu inang mungkin hanya ditempati oleh satu individu parasitoid saja, maka parasitoid tersebut dikenal sebagai solitary-parasitoid. Sebaliknya apabila satu inang dihuni oleh dua atau lebih parasitoid, maka parasitoid tersebut dikenal sebagai gregarious-parasitoid. Bila dilihat dari keberadaan parasitoid dan banyaknya individu parasitoid yang menyerang inang maka akan diperoleh solitary-ekto-parasitoid (parasitoid tunggal berada dan menyerang dari luar tubuh inang), solitary-endo-parasitoid (parasitoid tunggal berada dan menyerang di dalam tubuh inang), gregarious-ekto-parasitoid (parasitoid ganda atau banyak berada dan menyerang dari luar tubuh inang), dan gregarious-endo-parasitoid (parasitoid ganda atau banyak berada dan menyerang di dalam tubuh inang)

Gregarious dibedakan menjadi dua macam, yaitu super-parasitoid (apabila dalam satu inang terdapat dua atau lebih individu satu spesies parasitoid), dan multiple-parasitoid (apabila dalam satu tubuh inang terdapat dua atau lebih spesies parasitoid). Parasitoid yang langsung menyerang seranggahamadisebut parasitoid primer. Di lapangan kadang parasitoid yang menyerang hama(parasitoid primer) diserang oleh parasitoid lain, maka parasitoid tersebut dinamakan parasitoid sekunder. Apabila parasitoid sekunder diserang oleh parasitoit lain, maka parasitoid yang menyerang dinamakan parasitoid tersier, begitu seterusnya. Suatu peristiwa parasitoid diparasitir oleh parasitoid lain lazim dinamakan hiperparasitisme.

Parasitoid memiliki spesifikasi inang dan stadium inang. Misalnya stadium inang yang diserang telur, maka parasitoid tersebut dinamakan parasitoid telur. Parasitoid telur tidak mau menyerang stadium larva, pupa, atau dewasa inang. Contoh parasitoid telur adalah : Trichogramma australicum, T. japonicum, Telenomus spp., dan Xanthopimpla sp. Parasitoid larva misalnya Apanteles artonae, Diadegma eucerophaga, dan Stenobrachon sp., hanya menyerang stadium larva inang. Demikian pula parasitoid pupa misalnya Brachimeria sp., hanya menyerang pupa inang.

Predator adalah binatang yang hidup secara bebas di alam, memangsa binatang lain termasuk memangsahama. Biasanya predator memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat dari pada tubuh mangsanya. Predator mematikan mangsanya seketika (cepat) kemudian dimangsa. Dalam satu hari seekor predator mampu memangsa dua ekor mangsa, bahkan sampai puluhan ekor. Predator lebih efektif memangsahamadibanding parasitoid.

Pemanfaatan predator untuk mengendalikan hamatelah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu di daratan Chinadengan menggunakan kucing sebagai pemangsa tikus. Keberhasilan dari taktik pemanfaatan musuh alami baru dirasakan pada tahun 1888 yaitu keberhasilan pemanfaatan kumbang vedalia, Rodolia cardinalis untuk mengendalikan hama kutu jeruk, Icerya purchasi di Kalifornia, Amerika Serikat. Kumbang predator vedalia tersebut didatangkan dariAustralia yaitu sebagai negara asal tanaman jeruk Kalifornia pada tahun 1883. Keberhasilan tersebut telah membuka lembaran baru dan ditetapkan bahwa tahun 1888 sebagai awal dimulainya pengendalian hayati.

Predator dalam kehidupan sehari-hari mudah kita jumpai misalnya anjing, kucing, ular, cicak, katak, kelelawar, burung (seperti burung hantu, Tytus alba).  Predator dari golongan serangga misalnya : kumbang buas dari suku Coccinellidae, kepik buas dari suku Reduviidae, lebah buas dari suku Vespidae, lalat buas dari suku Xyrphidae, laba-laba buas Lycosa, bangsa capung, bangsa cecopet.

Dalam mengoptimalkan peran musuh alami dapat ditempuh melalui 3 jalan, yaitu :

  1. Konservasi musuh alami, terutama bersifat preventif dengan membatasi tindakan yang dapat memacu pertumbuhan populasihama(pupuk N berlebihan, menanam varietas peka), dan mengurangi (bila mungkin meniadakan) aplikasi pestisida.
  2. Augmentasi, yaitu teknik peningkatan musuh alami dengan cara melepas musuh alami ke lapangan, melalui cara-cara :

(1)   Inokulatif, pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam semusim atau setahun dengan harapan agar musuh alami tersebut dapat berkolonisasi dan menyebar luas ke seluruh areal pertanaman. Hal ini dilakukan dengan tujuan menjaga poulasihamatetap berada dalam aras keseimbangan, sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomik.

(2)   Suplementatif, pelepasan ini dilakukan apabila poulasi musuh alami sudah tidak mampu lagi menekan populasihama. Pelepasan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi musuh alami agar lebih efektif.

(3)   Inundatif, pelepasan musuh alami dilakukan secara besar-besaran bahkan dengan interval waktu tertentu. Tujuan pelepasan ini adalah agar individu-individu musuh alami mampu menekan populasi hamadalam waktu singkat, sehingga cara ini juga dikenal sebagai insektisida biologis. Pada perkebunan tebu milik perusahaan, pelepasan parasitoid telur Trichogramma australicum sebanyak 150.000 ekor per hektar dapat menekan populasi penggerek pucuk tebu Scirpophaga nivella atau tingkat kerusakan pucuk tebu. Syarat yang harus dipenuhi adalah musuh alami tersebut harus dapat dibiakkan secara massal (mass rearing) di laboratorium dengan pakan alternative (pakan buatan).

  1. Introduksi, yaitu mengimpor musuh alami seperti dilakukan oleh pemerintah Indonesiaterhadap kumbang buas Curinus coreuleus yang diimpor dari Hawai untuk mengendalikan kutu loncat lamtoro.

Dalam memanfaatkan peran parasitoid dan predator perlu diperhatikan 3 hal sebagai berikut :

  1. Mengenal ciri-ciri umum yang dimiliki oleh parasitoid dan predator, yaitu :

(1).  Memiliki tingkat kemampuan mencari mangsa tinggi, terutama pada  tingkat populasi hama rendah

(2).  Memiliki inang spesifik, kadang sifat polifah juga baik karena daya adaptasi pada lingkungan beragam lebih tinggi

(3). Kemampuan berkembangbiak tinggi, ditandai dengan keperidian    tinggi, fekunditas tinggi, longivitas panjang, siklus hidup pendek bagi parasitoid dan panjang bagi predator.

(4). Memiliki kemampuan beradaptasi terhadap relung (niche) inang tinggi

(5).  Mudah dibiakkan secara massal di Laboratorium dengan pakan buatan atau inang alternatif

(6).   Tetap adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan

  1. Mengenal keunggulan dan kelemahan parasitoid dan predator, yaitu :

 

Parasitoid

Predator

Lebih spesifik Umumnya bersifat polifah
Sulit beradaptasi dengan lingkungan beragam, tetapi beradaptasi tinggi pada lingkungan inang Mudah beradaptasi dengan lingkungan beragam
Tingkat kemampuan mencari inang tinggi Tingkat kemampuan mencari mangsa umumnya rendah. Induk meletakkan telur dalam populasihamatinggi
Kemampuan memparasit tinggi, walaupun populasi inang rendah Lebih banyak memangsa apabila populasi mangsa tinggi
Satu siklus hidup hanya memarasit satu ekor inang Satu siklus hidup memangsa banyakhama

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mengenal faktor-faktor yang mempengaruhi daya kerja parasitoid dan predator di lapangan, seperti berikut :

(1). Faktor habitat, faktor ini meliputi :

(a).  Faktor iklim, seperti curah hujan, suhu, angin, yang tidak    mendukung

(b). Tanaman inang, berpengaruh terhadap ketahanan atau kepekaan terhadap seranggahama

(c).  Ketersediaan pakan bagi parasitoid dewasa yang berupa madu, nektar, dan polen

(d).   Kompetisi dengan spesies lain

(e).   Pengaruh pestisida

(2). Faktor yang berhubungan dengan inang, faktor ini meliputi :

(a).  Sebagian besar generasi inang tidak sinkron dengan musuh alami

(b).  Terjadinya strain atau biotipe baru dari inang atau mangsa

(c).   Stadia inang pada waktu tertentu tidak cocok

(3). Faktor yang berhubungan dengan musuh alami, diantaranya adalah :

(a).   Adanya migrasi atau diapause

(b).    Reproduksi musuh alami rendah

(c).    Musuh alami bersifat kurang baik

Taktik pengendalian hayati dengan memanfaatkan parasitoid dan predator memiliki keuntungan-keuntungan : (a) bersifat “langgeng”, (b) bersifat selektif, (c) tidak menimbulkan ketahanan atau resistensi, (d) tidak mencemari lingkungan. Sedang kelemahan-kelemahannya adalah : (a) trial and error, (b) lamban dan rumit.

Patogen hama adalah mikroorganisme yang mengakibatkan hama menjadi sakit dan mati. Patogen tersebut dapat masuk ke dalam tubuh inang (hama) melalui mekanisme transmisi sebagai berikut :

a. Melalui mulut saat makan, terus menuju ke pencernakan pakan

b.Melalui kutikula (kulit)hama

c. Melalui telur dari serangga betina (induk) terinfeksi

  1. Melalui permukaan telur terinfeksi

e. Melalui ovipositor terinfeksi saat induk endo-parasitoid meletakkan telur

Di lapangan pemanfaatan patogen serangga dapat dilakukan melalui 3 jalan, yaitu :

  1. Pemanfaatan patogn yang telah ada secara alamiah
  2. Introduksi patogen dari luar, bila di daerah tersebut belum ada
  3. Melalui aplikasi, misalnya dengan menyemprotkan insektisida mikrobia (Bactopein, Thuricide)

Adabeberapa keuntungan apabila menggunakan patogen sebagai agen pengendalian hayati, antara lain : (1) Hubungan antara inang-patogen bersifat spesifik, (2) Aman terhadap manusia atau hewan piaraan, (3) Kompatible dengan taktik pengendalianhamalain.

 

  1. TAKTIK PENGGUNAAN SENYAWA ATRAKTAN, REPELEN, FEROMON, DAN REKAYASA GENETIKA

Senyawa atraktan adalah senyawa kimia yang dapat menarik serangga untuk datang ke sumber senyawa tersebut berada. Senyawa atraktan dapat berasal dari alam (natural chemical attractant) dan senyawa atraktan buatan (synthetic chemical attractant). Contoh senyawa atraktan adalah :

  1. Sex pheromone, misalnya Hercon® merupakan senyawa gabungan dari (2)-11-Heksadecenal+(2)-9-Tetradecenal, dengan perbandingan 16:1 dapat menarik ngengat Heliothis virescens.
  2. Food lures, seperti methyl eugenol mampu menarik lalat buah Dacus spp.
  3. Oviposition lures, misalnya pasta rambut jagung mampu menarik ngengat betina Helicoverpa armigera.

Pemanfaatan senyawa atraktan tersebut berguna untuk : (a) Pemantauan populasi serangga hama, (b) Mengurangi populasi induk serangga hama, (c) Mempengaruhi perilaku serangga hama, seperti perilaku kawin, perilaku makan, mengelompok, perilaku meletakkan telur menjadi tidak normal.

Repelen adalah senyawa kimia yang tidak menarik, sehingga serangga bergerak menjauhi senyawa tersebut. Sebagai contoh adalah 6 MBOA yang terdapat di dalam tanaman jagung mengakibatkan batang keras dan tidak disukai oleh penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis. Senyawa gosipol yang terdapat di dalam tanaman kapas akan mengakibatkan boll tidak disukai oleh penggerek buah kapas Helicoverpa armigera.

Rekayasa genetika antara lain dilakukan dengan menyinari pupa jantan penggerek batang tebu dengan sinar gamma Co60 agar diperoleh imago jantan mandul. Metode tersebut dikenal sebagai teknik jantan mandul (male sterile tecknique). Populasi jantan mandul yang telah diperoleh dilepaskan ke lapangan agar mengawini betina normal di alam, maka hasil keturunan tersebut sebagian mandul dan sebagian normal. Dengan demikian akan menurunkan populasihama dari musim ke musim. Kecuali dengan sinar radio aktif, jantan mandul dapat diperoleh dengan chemosterilant misalnya TEPA®. Dua syarat keberhasilan metode jantan mandul adalah : (a) Populasi jantan mandul yang dilepas ke lapangan harus lebih banyak dibanding populasi jantan normal di alam, (b) Perilaku kawin jantan mandul harus tidak berubah sebagaimana jantan normal.

 

  1. TAKTIK PENGGUNAAN PESTISIDA

 

Pestisida adalah senyawa kimia yang dalam kadar yang sangat rendah (kurang dari 1 ppm) telah mampu membunuh OPT. Tidak hanya senyawa kimia saja yang dapat menyebabkan pestisida mampu membunuh OPT tetapi dapat berupa mikrobia atau produknya sehingga dikenal sebagai pestisida biologis. Mungkin juga dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat pestisida seperti mimba, deris, tembakau, krisan, yang dikenal sebagai pestisida nabati. Secara ringkas pengertian petisida dari berbagai sisi dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Penamaan berdasarkan OPT sasaran,

1). Membunuh OPT kelompokhama

a). Bila membunuh serangga dinamakan insektisida

b). Bila membunuh tungau dinamakan acarisida

c). Bila membunuh nematoda dinamakan nematisida

d). Bila membunuh moluska dinamakan molusida

e). Bila membunuh tikus dinamakan rodentisida

2). Membunuh OPT kelompok patogen

a). Bila membunuh jamur patogen dinamakan fungisida

b). Bila membunuh bakteri dinamakan bakterisida

3). Membunuh OPT kelompok gulma dinamakan herbisida

  1. Bahan aktif insektisida

1).  Organo alami, misalnya arsenat, merkurial, fluorial

2). Organo sintetik, misalnya organopospat, klor hidrokarbon, karbamat,   tiosianat, nitrofenol, sulfonat.

3).  Nabati, misalnya nikotinoid, rotenoid, piretroid, asediroid

4). Biologis, misalnya Bacillus thuringiensis, Metarrhizium, Baculovirus, Steinernema

  1. Formulasi insektisida

1). Berbentuk butiran, langsung digunakan dengan kode G (granuler) (Furadan 3 G)

2).  Berbentuk tepung, langsung digunakan dengan kode D (dust) (Sevin 5 D)

3).  Berbentuk cair, langsung digunakan kode ULV (ultra low volume) (Ambush 5 ULV) dan Aerosol (diberi tekanan, Baygon aerosol)

4).  Berbentuk tepung, bila mau digunakan harus ditambah air kode WP (wettable powder) (Lannate 25 WP), kode SP (soluble powder) (Padan 50 SP), kode S (Solution) (Sevin 85 S)

5).  Berbentuk cair, bila mau digunakan harus ditambah air, kode EC (emulsifiable concentrate) (Bayrusil 25 EC), kode LC (liquid concentrate) (Tamaron 200 LC), kode SCW (solution concentrate water) (Nuvacron 20 SCW), kode WSC (water soluble concentrate) (Bidrin 24 WSC)

6).  Fumigan, berbentuk gas (HCN, CS2), berbentuk cair (Metil Bromida), berbentuk padat (Fostoksin tablet)

7).  Umpan beracun, buatan pabrik siap saji (Klerat), bila akan digunakan harus dicampur dengan pakan (Zincphosphit, Racumin)

  1. Daya bunuh insektisida,

Diukur dengan LD50 (lethal dosage 50) atau LC50 (lethal concentrate 50) atau LT50 (lethal time 50). Batasan daya racun berdasarkan nilai LD50 seperti disajikan di bawah ini. Semakin tinggi nilai LD50 maka semakin rendah daya racunnya.

Kategori Daya Racun

Nilai LD50

Daya Racun Ekstrem 1 mg/kg atau lebih rendah
Daya Racun Tinggi 1-50 mg/kg
Daya Racun Moderat 50-500 mg/kg
Daya Racun Rendah 0,5-5 g/kg
Praktis Tidak Beracun 5-15 g/kg
Relatif Aman 15 g/kg atau lebih tinggi

 

 

 

 

 

 

  1. Cara kerja (Mode of Action) dan cara masuk (Mode of Entry)

No.

Cara kerja insektisida

Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga

1.

Sebagai racun kontak

Lewat kutikula serangga (chitin, lapisan lilin), dermal

2.

Racun perut

Lewat mulut, oral

3.

Racun pernafasan

Lewat saluran pernafasan

4.

Sebagai racun sistemik

Lewat mulut (oral), tetapi insektisidanya ditranslokasi dahulu ke dalam tubuh tanaman

 

  1. Teknik aplikasi dan alat aplikasi insektisida sesuai Formulasinya

 

NO.

CARA APLIKASI

FORMULASI

ALAT

1.

Disemprotkan

EC, WP, WSC, SCW, SP, S, AEROSOL, ULV

Sprayer (Automatik, Semiautomatik, Motor),

Mist Blower, alat ULV

2.

Ditaburkan, Dibenamkan

G

G

Alat Khusus

Cangkul, Bajak

3.

Dihembuskan

D

Duster

4.

Diinjeksikan

Insektisida bersifat sistemik

Injektor

5.

Dicampur pakan

Serbuk halus, padat

-

6.

Diemposkan

Serbuk kasar belerang

Emposan

7.

Fumigasi

Gas, Cair, Padat

Alat Khusus

 

Dalam penggunaannya dikenal istilah dilema pestisida, yaitu disatu fihak pestisida memang sangat diperlukan karena : (1) Memiliki efektivitas tinggi, (2) Bekerja secara cepat sehingga hasilnya cepat terlihat, (3) Bersifat konsisten, (4) Dapat digunakan pada setiap waktu dan setiap tempat, (5) Mudah diperoleh di pasaran. Tetapi dilain fihak pestisida memiliki sifat-sifat yang kurang baik karena : (1) Memacu timbulnya resistensi hama, (2) Memacu timbulnya resurgensi hama, (3) Memacu munculnya ledakan hama kedua, (4) Membunuh serangga berguna (parasitoid, predator, polinator, dekompositor), (5) Meninggalkan residu pada tanaman, air, tanah, bahkan udara yang membahayakan, (6) Menimbulkan pencemaran lingkungan, (7) Nilai ekonomiknya mahal bila dilihat dari internal maupun external cost-nya.

Dalam rangka mengatasi dilema pestisda tersebut, maka penggunaan pestisida harus secara rasional dan bijaksana. Dasar penggunaan pestisida adalah populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman yang telah mengarah ke nilai kerugian ekonomik. Dalam hal ini terdapat dua batas ekonomik yaitu Ambang Ekonomik (AE) sebagai batas penyemprotan pestisida, dan Aras Luka Ekonomik (ALE) sebagai batas kerugian ekonomik dalam usaha taninya. Untuk melihat apakah populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman sudah sampai ke AE atau ALE belum, maka perlu dilakukan pemantauan populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman secara rutin (misalnya setiap minggu) dan cermat. Apabila populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman telah sampai ke AE maka pertanaman tersebut direkomendasikan untuk segera disemprot agar populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman tidak pernah sampai ke ALE. Oleh karena itu penggunaan pestisida secara rutin (misalnya setiap minggu, setiap 5 hari) tidak dibenarkan. Idealnya tidak perlu menggunakan pestisida, sedang kalau terpaksa harus seminimum mungkin.

Sangat bijaksana apabila terpaksa menggunakan pestisida memilih pestisida yang efektif fisiologis (efektif untuk OPT sasaran) dan efektif ekologis (aman terhadap musuh alami dan serangga berguna lain, tidak persisten tetapi mudah dan cepat terurai). Demikian pula harus memperhatikan dosis, konsentrasi, waktu apikasi, alat aplikasi, dan keamanan atau keselamatan pekerja. Taktik pestisida merupakan alternatif terakhir manakala taktik pengendalian lain sudah tidak mampu mencegah peningkatan populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman.

 

 

September 2nd, 2012 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

TABEL 1. DUNIA BINATANG (THE ANIMAL KINGDOM)

YANG BERPERAN DI BIDANG PERTANIAN

FILUM

KLAS

ORDO

CONTOH OPT

CONTOH  OB

Arthropoda

  1. Insekta (Hexapoda)
  2. Arachnida
  3. Bangsa Serangga
  4. Bangsa Tungau
  5. Lihat Tabel 2
 

  1. Tetranychus bimaculatus

Tenuipalpus obovatus

Tarsonemus transluscens

  1. Lihat Tabel 2

 

  1. Lycosa peudoannulata

Mollusca

Gastropoda

  1. Bangsa siput bercangkang
  2. Bangsa siput tidak bercangkang
  3. Achatina fulica
  4. Poemacea canaliculata
  5. Filicaulis bleckeri
Parmarion pupillaris

Lamellaxis gracilis

 

Nemathelmimthes

Nematoda (Nemata)

  1. Tylenchida (memiliki Stomatostylet)
  2. Dorylaimida (memiliki Odontostylet)
  3. Meloidogyne spp.
      Pratylenchus penetrans

      Radopholus similis

      Aphelenchoides besseyi

  1. 2.        Dorylaimus sp.

      Longidorus sp.

      Xyphinema sp.

Neoplectana sp.

Steinornema carpocapsae

Rhabditis sp.

Heterorhabditis bacteriophora

 

 

 

 

 

Chordata

Mammalia

 

  1. Rodentia

 

 

 

 

 

  1. Primates

 

  1. Carnivora

 

  1. Artiodactyla
  2. Chiroptera
  3. Insectivora
 

  1. Callosciurus notatus

      C. nigrovittatus

      Rattus rattus diardi

     R. r. argentiventer

     R. r. tiomanicus

     Hestrix javanicus

  1. Macaca spp.

      Trachypithecus sp.

  1. Paradoxurus hermaphroditus
  2. Sus sp.
  3. Pteropus vampyrus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Suncus murinus

Aves

Burung

Passer montanus malaccensis

Padda oryzivora

Munia leucogastroides

M. punctulata

Dicaeum trochileum

 

  Tyto alba

TABEL 2. ORDO-ORDO SERANGGA YANG BERPERAN DI BIDANG PERTANIAN

Ordo

Metamorfose

Tipe Larva

Tipe Pupa

Sayap Depan

Sayap Belakang

Tipe Alat Mulut Lv

Tipe Alat Mulut Ds

Stadium Menyerang

Tanda Serangan

Spesies Hama

Spesies Musuh Alami

Coleo

ptera

Holometa

bola

Oligopoda/ Scarabaeiform

Kecuali

Familia

Curculioni

dae

Apoda/ Vermiform

Libera

Elytra

Membran

Penggigit

Penggigit

Larva/Imago

Daun berlobang

Penggerek pucuk

Penggerek ranting

Penggerek batang

Penggerek buah

Penggerek umbi

Penggerek stek, akar

Phaedonia inclusa

 Oryctes rhinoceros

 Rhitidodera simulans

 Glenea novemguttata

Hypothenemus hampei

Cylas formicarius

 Lepidiota stigma

Coccinella arcuata

Coccinella repanda

Rodolia cardinalis

Curinus coeruleus

Lepido

ptera

Holometa

bola

Polipoda

(Pseudo

Poda) / Eruciform

Obtekta

Bersisik

Bersisik

Penggigit pengunyah

Pengisap

Larva

Daun berlobang

Penggulung daun

Perangkai pucuk

 

Pengorok daun

Penggerek pucuk

Penggerek buah

Penggerek polong

Penggerek batang

Thether beras

Sundep & beluk

 

Spodoptera litura

 Erionota thrax

 

Lamprosema indicata

Biloba subsecivella

 Scirpophaga nivella

 Helicoverpa armigera

Etiella zinckenella

 

Chilo auricilius

 Corcyra cephalonica

 Scirpophaga incertulas

S. innotata

Chilo suppressalis

Sesamia inferens

Chilo polycrysus

 

Di

ptera

Holometabola

Apoda/ Vermiform

Coarctata

Membran

Halter

Penggaruk pengisap

Penjilat pengisap

Larva / Imago

Lalat bibit

Kacang-

Kacangan

 

Lalat bibit padi

Pengorok daun

Hama ganjur padi

Busuk buah

Ophyomyia phaseoli

Melanagromyza sojae

 

Atherygona exigua

 Lyriomyza sp.

 

Orseolia oryzae

 Dacus dorsalis

Dacus pedestris

Lalat buas

Xyrphidae

Lalat Jatiroto

Diatraea striatalis

Ortho

ptera

Paurometa

bola

Nimfa

-

Tegmina

Membran

Penggigit pengunyah

Penggigit pengunyah

Nimfa & Imago

Daun berlobang

 

 

 

 

 

 

Pemakan stek & akar

 

Hama pascapanen

Valanga nigricornis

Aularches millaris

Sexava coreacea

Locusta migratoria

Oxya chinensis

 

 Gryllotalpa africana

 Periplaneta americana

Otomantis sp.

Conocephalus longipennis

Homo

ptera

Paurometa

bola

Nimfa

-

Sejenis

Membran

Pencucuk pengisap

Pencucuk pengisap

Nimfa & Imago

Hopper

Burm

 

 

 

 

 

Curling, stunting, mistforming

 

Nilaparvata lugens

Nephotettix nigropictus

Inazuma dorsalis

Empoasca sp.

 

 

Aphis maydis

Coccus viridis

Pseudococcus liliacinus

 

Hemi

ptera

Paurometa

bola

Nimfa

-

Hem

elitra

Membran

Pencucuk pengisap

Pencucuk pengisap

Nimfa & Imago

Pucuk layu

 

Padi hampa

Buah bercak

Nezara viridula

 

Leptocorisa oratorius

Helopelthis antonii

Kepik buas Reduviidae

Thysano

ptera

Paurometa

bola

Nimfa

-

Berumbai

Berumbai

Penggaruk pengisap

Penggaruk pengisap

Nimfa & Imago

Daun dan pucuk menguning Thrips oryzae

Selonothrips sp.

 

Hymeno

ptera

Holometa

bola

Apoda

Libera

Seperti

kulit

Membran

Penggigit

pengisap

Penggigit pengisap

Larva & Imago

    Apis melifera

Trichogramma australicum

Trichogramma japonicum

Bracon chinensis

Apanteles artonae

Xanthopimpla sp.

Stenobracon sp.

Odonata

Hemimetabola

Nimfa

-

Membran

Membran

Penggigit Pngunyah

Penggigit Pngunyah

Nimfa & Imago

-

-

Capung, Dragon/Damsel Fly

Derma

ptera

Paurometabola

Nimfa

-

Pendek

Pendek

Penggigit

Penggigit

Nimfa & Imago

-

-

Cecopet

Chelisoches morio

Proreus similans

Iso

ptera

Paurometa

bola

Nimfa

-

Membran

Membran

Penggigit

pengunyah

Penggigit

pengunyah

Nimfa

Stek tebu

Coptotermes curvignathus

 

Materi Kuliah Perlindungan Tanaman

August 27th, 2012 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

PERAN PERLINDUNGAN TANAMAN DALAM BUDIDAYA PERTANIAN

PADA ERA GLOBALISASI٭)

Oleh :

YV. Pardjo Notosandjojo٭٭)

I. PENDAHULUAN

Pembangunan sektor pertanian baik dunia maupun kawasan bertujuan untuk menaikkan produksi pertanian guna meningkatkan pendapatan petani dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, terutama kebutuhan pangan bagi penduduk yang populasinya meningkat dengan cepat. Meningkatnya jumlah penduduk, berkembangnya budaya bangsa, transportasi, komunikasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia menuntut adanya kebutuhan pangan yang berkualitas tinggi, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dangayahidup yang semakin meningkat. Hal tersebut berarti diperlukan lahan pertanian yang semakin luas, produksi lahan pangan, sandang, dan papan yang semakin meningkat baik jumlah maupun mutunya.

Di Indonesia peningkatan produksi pertanian diupayakan melalui ektensifikasi, intensifikasi, dan deversifikasi. Upaya ekstensifikasi dilakukan antara lain dengan perluasan daerah irigasi, pembukaan lahan pasang-surut di Kalimantan dan Sumatera, serta pembukaan lahan 1.000.000 hektar persawahan di lahan gambut di Sumatera. Upaya-upaya tersebut belum mampu mengatasi masalah pangan bagi negara kita yang laju pertumbuhan penduduknya sangat cepat. Upaya lain adalah dengan intensifikasi, yaitu meningkatkan produksi pertanian per satuan luas. Intensifikasi dilakukan melalui panca-usaha pertanian sebagai berikut : (1) Pemilihan bibit unggul yang berpenghasilan tinggi, sedapat mungkin yang tahan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki rasa enak; (2) Penggunaan pupuk berimbang dan rasional; (3) Mengusahakan irigasi yang teratur; (4) Meningkatkan teknik bercocok tanam yang lebih menguntungkan; (5) Pengendalian terhadap OPT melalui higenis pertanaman, dan penggunaan bahan kimia pestisida yang rasional. Upaya deversifikasi dilakukan dengan meningkatkan keragaman pertanaman, bukan monokultur.

Upaya intensifikasi telah dirasakan memberikan peningkatan hasil positip, ini ditandai dengan meningkatnya produksi pertanian secara nyata sehingga mampu  memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Puncak produksi pangan khususnya beras dicapai pada tahun 1996 dikenal sebagai swa sembada beras. Namun pada tahun 1999Indonesiatelah mengimpor beras kembali dari luar negeri. Mengapa demikian ?; Karena peningkatan produksi pertanian masih merupakan hal yang cukup rawan, mengingat banyak hal yang dihadapi. Kendala tersebut antara lain pengaruh dari dua faktor yang sangat dominan, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik.

________________________________________________________________________

 

٭) Makalah Pengantar Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian UNS Surakarta Klas AB-3 C & D

٭٭) Dosen Pengampu MK Perlindungan Tanaman

 

 

Kendala faktor abiotik seperti adanya musim kering berkepanjangan, berkurangnya lapisan ozon mengakibatkan ribuan bahkan jutaan hektar pertanaman padi kering dan tidak dapat dipanen. Bencana banjir sering melanda ribuan bahkan jutaan hektar pertanaman, yang mengakibatkan tanaman puso. Angin puyuh sering mengakibatkan tanaman roboh, patah, defoliasi, aborsi bunga atau buah, dan kerusakan lain pada tanaman. Logam berat yang berasal dari limbah industri sering mengganggu pertumbuhan tanaman. Bencana alam gunung berapi, seperti lava (panas atau dingin), awan panas, dan hujan abu dapat menurunkan produksi tanaman atau bahkan memusnahkan tanaman pertanian.

Kendala yang berasal dari faktor biotik adalah gangguan dari organisme pengganggu tanaman (OPT), yang terdiri atashama, penyakit, dan gulma.  Gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah kepada pengurangan kuantitas dan atau kualitas dari hasil yang diharapkan. Pengurangan kuantitas dan atau kualitas berdampak pada kerugian ekonomik.

Perlindungan tanaman perlu dilakukan dalam rangka mengeliminasi gangguan OPT. Perlindungan dapat dilakukan melalui cara preventif (mencegah OPT masuk ke pertanaman) dan cara kuratif (mengendalikan OPT yang telah ada pada pertanaman). Perlindungan tanaman terhadap OPT dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai taktik pengendalian secara terpadu, dengan memperhatikan terhadap kelestarian lingkungan hidup, sosial, ekonomik, dan kesehatan masyarakat. Dengan demikian taktik pengendalianhamadengan pestisida merupakan pilihan terakhir apabila taktik pengendalian lain tidak mampu membendung laju populasihamaatau tingkat kerusakan tanaman. Sebagai dasar penggunaan pestisida adalah Ambang Ekonomi, atau Ambang Kendali. Mengingat pestisida merupakan sumber pencemaran bahan kimia beracun baik pada tanaman atau produknya, air, tanah, maupun udara. Pengendalian semacam itu lebih dikenal sebagai Sistem Pengendalian atau Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).

Kedudukan Perlindungan Tanaman dalam budidaya tanaman adalah sangat penting dan mutlak dilakukan, mengingat Perlindungan Tanaman merupakan jaminan dalam mempertahankan produksi tanaman terhadap gangguan OPT. Tanpa dilakukan Perlindungan Tanaman pada budidaya tanaman sulit dipastikan bahwa petani akan mampu panen sesuai dengan harapan mereka.

II. PENGERTIAN DAN ARTI PENTING ORGANISME

OPT, terdiri atas binatang, mikro-organisme, dan tumbuhan liar (gulma). Binatang yang berperan sebagai OPT dapat berasal dari binatang menyusui (Klas Mammalia), binatang lunak (Klas Mollusca), binatang cacing parasit tanaman (Klas Nematoda), dan binatang Serangga (Klas Insekta dan Klas Arachnida). Dari binatang menyusui misalnya babi hutan, kera, dan rusa yang menjadi musuh petani di luar Jawa terutama di kawasan pemukiman transmigrasi. Gajah bahkan sering merusak ladang petani maupun perkebunan tebu di Sumatera Selatan dan Lampung. Tidak kalah pentingnya adalahhamatikus sawah yang mampu menyerang dan membinasakan ribuan bahkan jutaan hektar pertanaman padi yang sudah siap panen. Tidak hanya pertanaman padi yang diserang tetapi pertanaman pangan lain, palawija, dan tebu. Tidak hanya tikus sawah yang menimbulkan masalah, tetapi juga tikus rumah yang sering menimbulkan masalah pada bahan dan produk pertanian yang disimpan di dalam gudang. Disamping itu sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan manusia. Tikus pohon juga banyak menimbulkan masalah pada perkebunan kelapa atau kelapa sawit, salak, padi, dan jagung. Demikian juga tupai yang banyak menimbulkan masalah pada pertanaman kelapa, mengerat buah kakao, mangga, dan durian. Kalong dan codhot (bangsa kelelawar) banyak menimbulkan masalah karena menyerang buah-buahan di pedesaan. Burung (bangsa Aves) juga sering dijumpai mengganggu tanaman budidaya pertanian terutama burung-burung pemakan biji-bijian seperti burung gelatik, burung pipit, burung gereja. Namun beberapa jenis burung memakan buah-buahan.

Binatang lunak yang sering menimbulkan masalah adalah bangsa siput seperti siput Singapura (bekecot), keong emas, dan jenis siput lain baik yang bercangkang maupun tidak bercangkang. Cacing parasit tanaman (bangsa Nematoda) banyak menimbulkan masalah baik lokal, nasional, maupun internasional. Nematoda puru akar banyak menimbulkan permasalahan pada pertanaman terutama dari familia Solanaceae, seperti tanaman tembakau, kentang, tomat, cabai, terung. Namun sifat nematoda puru akar adalah polifag sehingga nematoda tersebut mampu menyerang berbagai komoditi pangan, palawija, hortikultura, bahkan tanaman perkebunan. Nematoda dari marga Pratylenchus, Radopholus, dan Radinaphelenchus mampu merusak tanaman kopi, lada, pisang, dan kelapa/kelapa sawit. Marga lain misalnya Aphelenchoides, Ditylenchus, dan Anguina mampu menyerang padi, gandum, tanaman hias, dan hortikultura. Pada tahun 2000 an Indonesia heboh dengan masuknya “golden nematode” dari Marga Globodera, jenis nematoda ini menyerang pertanaman kentang, pada hal nematoda tersebut merupakan masalah besar di Amerika dan Eropa. Masuknya nematoda tersebut menunjukkan bahwa sistem perlindungan tanaman kita terutama Dinas Karantina Tumbuhan masih lemah.

Binatang serangga menduduki sekitar 75% dari seluruh binatang yang ada di dunia ini. Dengan demikian peran serangga dalam sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan sangat penting. Serangga yang memiliki dua klas, yaitu klas insekta dan klas arachnida memiliki anggota yang besar yang berperan sebagai OPT. Dari klas insekta dikenal Bangsa-Bangsa penting, antara lain,  Bangsa kupu-kupu (Lepidoptera), bangsa kumbang (Coleoptera), bangsa lalat (Diptera), bangsa lebah (Hymenoptera), bangsa belalang (Orthoptera), bangsa kepik atau kepinding (Hemiptera), bangsa kutu & wereng (Homoptera), bangsa trip (Thysanoptera), bangsa rayap (Isoptera), dan bangsa capung (Odonata). Dari klas arachnida dikenal bangsa tungau (Mite). OPT binatang tersebut untuk selanjutnya disebut binatanghamaatauhamasaja.

OPT mikro-organisme dapat berupa jamur patogen tanaman, bakteri, virus, mikoplasma, protozoa. Dikenal jamur embun tepung yang menyerang pertanaman apel di daerah Batu, Pujon (Malang, Jatim) meluas sampai daerah Nongkojajar (Pasuruan, Jatim). Jamur Fusarium dan Phytophthora yang sangat berbahaya pada tanaman tembakau, kentang, tomat, teh, dan lain-lain. Bakteri busuk batang sangat berbahaya pada tanaman panili, bakteri lanas berbahaya pada tanaman tembakau, kentang dan tomat. Virus CVPD telah terbukti mampu menghancurkan ribuan bahkan jutaan tanaman jeruk diIndonesia. Virus mozaik sangat menurunkan kualitas daun tembakau dan teh. Masih banyak lagi peran mikro-organisme sebagai OPT terlebih bila mikro-organisme tersebut ditularkan via serangga vektor. OPT mikro-organisme tersebut untuk selanjutnya disebut penyakit tanaman.

OPT berasal dari tumbuhan liar (gulma) mengganggu pertanaman budidaya pertanian dalam berbagai hal, antara lain : persaingan (kompetisi) dalam memperoleh unsur hara, tempat tinggal, cahaya matahari, kadang terjadi alelopati. Rumput alang-alang merupakan masalah di lahan pertanian luar Jawa, baik di Sumatera danKalimantan. Enceng gondok yang dahulu sebagai tanaman hias di kolam-kolam telah berubah menjadi gulma baik di persawahan maupun di waduk, dam, atau rawa-rawa. Hampir setiap lahan pertanian, perkebunan, maupun tegalan pasti selalu tumbuh gulma baik berupa rumput-rumputan, gulma berdaun sempit, maupun berdaun lebar, yang tentunya sebagai pesaing berat bagi tanaman budidaya. OPT tumbuhan liar tersebut untuk selanjutnya disebut gulma.

Berdasarkan uraian di atas tentunya dapat dibedakan secara mudah antarahama, penyakit, dan gulma. Dari segi jasat pengganggunya, dari cara jasat tersebut mengganggu, dan dampak dari gangguan yang ditimbulkan.

Tidak semua organisme di dunia ini selalu berperan sebagai OPT, namun ada sebagian organisme yang berperan membantu tanaman atau membantu petani yang lebih dikenal sebagai Organisme Benefisial (OB). Dari golongan binatang menyusui dikenal kucing dan anjing yang merupakan pemangsa tikus dan babi hutan. Binatang melata seperti ular sangat efektif memangsa tikus. Di perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara telah dipelihara burung hantu sebagai pemangsa tikus pohon.Adajenis-jenis nematoda yang berperan sebagai pemangsa nematoda parasit tanaman, ada yang memangsa jamur patogen atau bakteri. Demikian pula serangga yang banyak berperan sebagai pemangsa (predator) seperti kumbang buas, kepik buas, lebah buas, capung, dan laba-laba buas. Namun ada jenis-jenis serangga yang hidupnya menumpang pada serangga lain dan dapat menyebabkan kematian pada serangga tersebut, yang lebih dikenal sebagai parasitoid. OB serangga dapat pula membantu dalam proses penyerbukan tanaman, menghasilkan lak sebagai bahan baku cat atau pelitur, dan menghasilkan madu serta royal jelly. Kelompok mikro-organisme juga ada yang bermanfaat manakala mereka berperan sebagai patogenhama, yang menyebabkanhamamenjadi sakit, dan mati. Jenis-jenis mikro-organisme lain bermanfaat bagi proses fermentasi dalam pembuatan tape, anggur, dan minuman keras (brem, ciu, arak), pembuatan susu asam (kefir, yakult), juga bermanfaat dalam pembuatantempedan tauco. Bahkan dapat dimanfaatkan sebagai obat antibiotika sepert penisilin. Demikian pula tumbuhan liar tidak selalu sebagai gulma, tetapi ada yang bermanfaat seperti sebagai penahan longsor, penahan air, sarana olah raga (lapangan sepak bola, golf), untuk taman-taman, dapat menghasilkan pakan (polen, nektar, madu) bagi imago parasitoid, dan merupakan sumber pakan bagi ternak (kambing, sapi, kerbau, kuda, kelinci).

 

III. HUBUNGAN ANTARA TANAMAN DENGAN OPT

Tanaman bagi OPT binatang merupakan sumber pakan, tempat berlindung atau tempat hidup, dan tempat melakukan kopulasi. Sedang keberadaan OPT binatang bagi tanaman merupakan sumber gangguan, karena binatang mampu memakan tanaman mulai dari bagian akar sampai pucuk bahkan bunga, buah, ataupun bijinya. Beberapa binatang merusak secara mekanik seperti daun berlobang-lobang karena dimakan ulat daun atau belalang atau kumbang, akar-akar rusak bahkan terputus karena dimakan Lundi, tanaman padi nampak patah-patah porak poranda karena dimakan tikus sawah. Binatang juga dapat mengeluarkan semacam ludah yang bersifat toksik (beracun) bagi tanaman, seperti layu pucuk kapas karena dicucuk dan dihisap cairan selnya oleh kepik hijau. Serangan binatang juga mampu mempengaruhi pertumbuhan sel atau jaringan tanaman sehingga menyimpang dari normal, terjadinya puru pada akar tanaman karena adanya penyimpangan sel-sel akar akibat terserang nematoda Meloidogyne. Lebih bahaya lagi apabila saat binatang memakan tanaman, sekaligus menularkan patogen tanaman, dengan demikian terjadilah serangan ganda.

Tanaman sebagai sumber pakan sering disebut inang, inang yang paling disukai dikenal sebagai inang utama, namun tentunya binatang tidak mau mati kelaparan mana kala inang utamanya tidak ada dan mereka akan memakan tanaman lain meskipun tidak suka atau sekedar untuk mempertahankan hidup saja, tanaman lain tersebut disebut inang alternatif. Banyak sedikitnya tanaman sebagai inang dikenal sebagai kisaran inang, bila binatang memiliki inang banyak artinya binatang tersebut memiliki kisaran inang luas (euro-phagic), sebaliknya bila kisaran inangnya sedikit disebut kisaran inangnya sempit (steno-phagic). Bila binatang memiliki kisaran inang luas dan jenis-jenis  tanaman tersebut berasal dari banyak suku (familia) maka binatang tersebut disebut polifag, namun bila kisaran inangnya sempit hanya beberapa jenis tanaman yang berasal dari beberapa marga (genus) dinamakan oligofag, sedang bila tanaman inangnya hanya beberapa jenis saja dari satu marga dinamakan monofag. Binatang yang mengkonsumsi tanaman sebagai sumber pakan dinamakan herbivora, namun ada yang mengkonsumsi ganda baik tanaman maupun binatang dinamakan omnivora, sedang bila binatang hanya mengkonsumsi binatang saja dinamakan karnivora. Dengan demikian jelas bahwa OPT binatang berupa herbivora dan omnivora.

Tanaman bagi OPT mikro-organisme sebagai media tumbuh dan berkembang biak. Keberadaan OPT mikro-organisme sangat mengganggu dalam proses fisiologi tanaman sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan pertumbuhan tanaman yang mengarah kepenurunan angka hasil dan mutu hasil. Namun kadang penyimpangan tersebut justru meningkatkan nilai ekonomi komoditi tersebut, sepertu bunga tulip yang terserang virus kelihatan lebih indah dan lebih mahal. Kelapa kopyor sangat digemari orang dan mahal harganya.

Tanaman bagi OPT gulma sebenarnya sebagai pesaing, sama seperti gulma bagi tanaman. Tanaman dan gulma sama-sama tumbuhan tingkat tinggi jadi wajarlah bila persaingan tersebut didasarkan pada kebutuhan hidup bagi tanaman, yaitu kebutuhan akan unsur hara, kebutuhan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, dan kebutuhan tempat tinggal atau ruang hidup. Namun kadang akar gulma mampu mengeluarkan senyawa yang bersifat racun bagi tanaman sehingga terjadilah alelopati. Dengan demikian keberadaan gulma pada pertanaman budidaya sangat mengganggu penyediaan unsur hara tanaman, berkurangnya fotosintesa, terjadinya etiolasi, sampai pertumbuhan tanaman merana.

IV. KERUSAKAN TANAMAN DAN KERUGIAN EKONOMIK

Setiap kali terjadi serangan hamatentu akan menimbulkan luka (injury), dan luka tersebut akan mengakibatkan kerusakan (damage) pada tanaman. Jadi luka lebih difokuskan kepadahama dan aktifitasnya, sedang kerusakan lebih difokuskan kepada penyimpangan dari normal dan respon tanaman tersebut terhadap serangan. Dampak kerusakan adalah penurunan angka hasil (kuantitas) dan atau mutu hasil (kualitas). Bila penurunan angka hasil dan atau mutu hasil dirasakan secara ekonomik, maka OPT tersebut baru dapat dikategorikan sebagaihama, penyakit, maupun gulma. Jadi tolok ukurnya adalah nilai ekonomik kerusakan tanaman tersebut.

Sebagai ilustrasi dapat disampaikan beberapa contoh kejadian-kejadian sebagai berikut : serangan ulat kipat pada tanaman kedondong dan jambu mete mengakibatkan daun-daun kedondong dan mete meranggas bahkan habis dimakan oleh ulat tersebut yang populasinya ratusan sampai ribuan ekor per tanaman. Serangan ulat tersebut tidak pernah dihiraukan oleh pemiliknya, karena pemiliknya tahu bahwa dampak serangan itu akan membawa keuntungan ganda, yaitu setelah ulat menjadi kepompong maka kepompong tersebut bernilai ekonomik karena kandungan proteinnya tinggi. Sedang keuntungan kedua adalah tidak lama lagi tanaman akan bersemi kembali sambil muncul bunga-bunga yang cukup lebat. Dan tentunya hasil panennya lebih tinggi dibanding bila tidak terjadi serangan ulat tersebut. Apakah ulat kipat dapat dikategorikan sebagaihama?. Kelapa kopyor adalah penyimpangan buah akibat terserang virus, namun kelapa kopyor memiliki nilai ekonomik lebih tinggi dibanding kelapa biasa. Demikian juga bunga tulip yang terserang virus akan terjadi trotol-trotol yang membawa bunga tulip tersebut bernilai ekonomik lebih tinggi. Apakah patogen tersebut dapat dikategorikan sebagai penyakit tanaman ?

Ditinjau dari segi ekonomik ada beberapa istilah yang perlu diketahui, yaitu : Aras Luka Ekonomik (Economic Injury Level) adalah aras populasi hama terendah yang telah dapat menimbulkan kerugian secara ekonomik. Oleh karena itu tugas perlindungan tanaman adalah menjaga tingkat populasi hama agar tidak pernah sampai pada aras tersebut. Tidak kalah pentingnya adalah Ambang Ekonomik (Economic Threshold) adalah aras populasihama atau tingkat kerusakan tanaman yang pada aras tersebut telah dibenarkan penggunaan taktik pestisida untuk menekan populasihama agar tidak pernah sampai ke Aras Luka Ekonomik. Nilai ALE dan AE senantiasa berubah (dinamis) karena dipengaruhi oleh faktor pendukung yang tidak tetap seperti harga komoditi, biaya pengendalian OPT, kepekaan komoditi tersebut terhadap OPT, dan minat masyarakat terhadap komoditi tersebut.

V. RANGKUMAN

Semakin sempitnya lahan pertanian karena terjadinya alih fungsi dari lahan pertanian ke perumahan, gedung-gedung, pabrik-pabrik industri, jalan-jalan bebas hambatan, depo penyediaan BBM (premium, solar, premix), stadion-stadion, terminal-terminal angkutan, pasar-pasar, dan lain-lain, maka dalam proses budidaya tanaman perlu diupayakan intensifikasi dan ekstensifikasi. Upaya tersebut juga dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang meningkat secara cepat, dan meningkatkan penghasilan petani.

Dalam budidaya pertanian selalu ada kendala-kendala baik secara abiotik, yaitu terjadinya bencana alam yang tak mungkin kita kuasai seperti banjir dimusim penghujan, turunnya hujan es, sambaran petir, terjadinya tanah longsor, banjir lahar dingin, serangan angin puyuh, bencana kekeringan pada musim kemarau, hujan abu, gunung meletus, awan domba (awan panas), terjadinya fros. Tidak kalah pentingnya adalah kendala biotik yang dikenal sebagai OPT. OPT pada garis besarnya terbagi menjadi tiga golongan besar, yaitu golongan binatang (Vertebrata dan Avertebrata), golongan mikro-organisme, dan golongan tumbuhan liar. Gangguan yang ditimbulkan dari golongan binatang dinamakanhama, dari mikro-organisme dinamakan penyakit, dan dari tumbuhan liar dinamakan gulma.

Tidak semua binatang berperan sebagai OPT, tetapi banyak juga yang berperan sebagai OB (Organisme Benefisial) misalnya berperan sebagai predator, parasitoid, pollinator, penghasil madu, lak. Demikian juga dari golongan mikro-organisme tidak selalu sebagai OPT, tetapi banyak juga yang bersifat sebagai OB seperti sebagai patogen hama, patogen gulma, membantu proses fermentasi, ragi tape, ragi tempe, penghasil zat antibiotika, perombak bahan organik dan masih banyak lagi. Tumbuhan liar juga tidk selalu sebagai OPT, tetapi banyak juga yang berperan sebagai OB seperti gulma penahan longsor, penahan air, memperindah taman, lapangan bola, golf, pakan ternak, penggembalaan ternak, tempat berlindung musuh alami hama, menyediakan pakan bagi parasitoid imago seperti nektar, polen, madu, dan sebagai ramuan obat-obatan. Oleh karena itu suatu kewajiban untuk mengenal organisme secara mendalam, mana yang berperan sebagai OPT dan mana OB. Dengan demikian memudahkan dalam pengendalian OPT, dan selalu berorientasi untuk pelestarian OB.

Perlindungan tanaman terhadap OPT perlu dilakukan untuk mengeliminasi gangguan tersebut sehingga tidak berdampak pada kerugian ekonomik. Berbagai cara dapat dilakukan baik secara preventif (mencegah masuknya gangguan) maupun kuratif (mengendalikan gangguan yang ada). Baik mencegah maupun mengendalikan OPT dikenal berbagai taktik pengendalian yang pada garis besarnya dibagi menjadi dua, yaitu taktik non-pestisida dan taktik pestisida. Taktik non-pestisida meliputi taktik mekanis, fisis, kultur teknis, penanaman varietas tahan, taktik pemanfaatan musuh alami (biologis), taktik pemanfaatan senyawa atraktan, repellen, tatik rekayasa  genetik, dan taktik regulasi (peraturan, perundang-undangan). Taktik pestisida adalah taktik yang berisiko tinggi, berbahaya terhadap manusia, berbahaya terhadap lingkungan hidup, mengurangi bahkan menghilangkan fungsi OB. Taktik-taktik tersebut digunakan secara terpadu dalam satu tindakan pengendalian OPT yang dikenal sebagai Pengendalian atau Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Karena taktik pestisida berisiko tinggi maka taktik tersebut merupakan pilihan terakhir bila taktik non-pestisida tidak mampu menanggulangi OPT sasaran. Batas diperbolehkan menggunakan taktik pestisida dinamakan Ambang Ekonomi.

Dalam rangka mengikuti dinamika populasi OPT atau tingkat kerusakan tanaman maka perlu dilakukan pemantauan atau monitoring secara rutin dan cermat. Hal tersebut perlu dilakukan agar langkah-langkah perlindungan tanaman dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efisien. Dengan demikian penurunan hasil tanaman akibat gangguan OPT dapat dieliminasi, produksi dapat diselamatkan, dan pendapatan petani akan meningkat.

 

Selamat Belajar Semoga Berhasil


KAITAN ANTARA FORMULASI, TEKHNIK APLIKASI DAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

KAITAN ANTARA FORMULASI, TEKHNIK APLIKASI DAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

KELOMPOK VII

                                                                                                

Wahyu Beno K  H0708049

 

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

 

 

 

 

KAITAN ANTARA FORMULASI, TEKHNIK APLIKASI DAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

 

I. PENDAHULUAN

 

Di Indonesia, pestisida yang paling banyak digunakan sejak tahun 1950an sampai akhir tahun 1960-an adalah pestisida dari golongan hidrokarbon berklorseperti DDT, endrin, aldrin, dieldrin, heptaklor dan gamma BHC. Penggunaan pestisida-pestisida fosfat organik seperti paration, OMPA, TEPP pada masa lampau tidak perlu dikhawatirkan, karena walaupun bahan-bahan ini sangat beracun (racun akut), akan tetapi pestisida-pestisida tersebut sangat mudah terurai dan tidak mempunyai efek residu yang menahun. Hal penting yang masih perlu diperhatikan masa kini ialah dampak penggunaan hidrokarbon berklor pada masa lampau khususnya terhadap aplikasi derivat-derivat DDT, endrin dan dieldrin.

Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama. Menurut Food Agriculture Organization (FAO) 1986 dan peraturan pemerintah RI No. 7 tahun 1973, Pestisida adalah campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikan hewan/tumbuhan penggangu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia.

Pestisida juga didefinisikan sebagai zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh atau perangsang tumbuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan tanaman (PP RI No.6tahun 1995). USEPA menyatakan pestisida sebagai zat atau campuran zat yang digunakan untuk mencegah, memusnahkan, menolak, atau memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman, dan mikroorganisme penggangu (Soemirat, 2003).

Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman, khususnya untuk kehutanan dan pertanian pada tahun 1986 tercatat 371 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan penggunaannya, dan 38 formulasi yang baru mengalami proses pendaftaran ulang. Sedangkan ada 215 bahan aktif yang telah terdaftar dan beredar di pasaran (Sudarmo,1997). Sistem budidaya tanaman di Indonesia menganut prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang dinyatakan dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992. Dalam pelaksanaannya penggunaan pestisida untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah merupakan alternative terakhir dan digunakan secara benar dan bijaksana.

Memperhatikan pentingnya peran pestisida dalam pengelolaan hama/penyakit tanaman, terutama dalam operasionalnya dilapangan, maka dipandang perlu bahwa seluruh petugas lapangan yang terlibat dalam perlindungan maupun petugas lapang lain yang berhubungan dengan penggunaan pestisida untuk mengetahui dan memahami berbagai aspek dari pestisida itu sendiri. Hal ini dirasa sangat perlu karena pada umumnya pestisida merupakan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Namun demikian disadari pula bahwa pestisida dapat memberikan manfaat yang sangat besar, oleh karena itu dalam pengelolaannya harus diusahakan agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya. Dalam hal ini, perlu diperhatikan kaitan antara formulasi dan teknik aplikasi serta alat aplikasi pestisida.

 

II. ISI

FORMULASI PESTISIDA

Secara umum formulasi pestisida dapat digolongkan dalam 2 (dua) golongan besar yaitu formulasi cair dan formulasi padat. Formulasi cair biasanya terdiri dari bahan aktif, pelarut dan bahan tambahan seperti pengemulsi, perata, perekat dll, sedangkan formulasi padat umumnya mengandung bahan aktif, bahan pembawa (carier), pembasah dan perata.

Formulasi cair, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:

  1. Pekatan yang dapat diemulsikan (EC/Emulsifiable Concentrate), yaitu formulasi cair yang dibuat dengan melarutkan bahan aktif dalam pelarut tertentu dan dengan menambahkan satu macam atau lebih surfactant atau pengemulsi. Pelarut yang digunakan biasanya adalah xilen, nafta atau kerosene. Formulasi ini biasa digunakan dicampur dengan air dan akan segera menyebar berupa butir-butir sangat kecil yang tersebar dalam air. Bila campuran ini dibiarkan terlalu lama maka akan terbentuk dua larutan yang terpisah, oleh karena itu bila telah bercampur dengan air, pestisida ini harus segera diaplikasikan/digunakan.
  2. Pekatan yang larut dalam air (WSC/SCW/Water Soluble Concentrate), merupakan formulasi cair yang terdiri dari bahan aktif yang dilarutkan dalam pelarut tertentu (organik) yang dapat bercampur dengan air itu sendiri atau air itu sendiri sebagai pelarut.
  3. Pekatan dalam air (AC/Aqueous Concentrate), merupakan pekatan pestisida yang dilarutkan dalam air. Biasanya adalah bentuk garam dari herbisida asam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air seperti asam 2,4 – D atau 2,4 dichlorofenoksiasetat.

Formulasi Padat, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:

  1. Tepung yang dapat disuspensikan (WP/Wetable Powder atau DP/Dispersible powder), adalah tepung kering yang halus, yang apabila dilarutkan dalam air akan membentuk suspensi. Apabila bahan aktif berupa padatan, maka bahan aktif tersebut ditumbuk halus dan kemudian dicampur dengan bahan pembawa inert yang sesuai, misalnya tanah liat. Apabila bahan aktif berupa cairan, maka bahan aktif tersebut disemprotkan pada bahan pembawa yang kering. Besar partikel tepung biasanya tidak lebih besar dari 45 mikron.
  2. Tepung yang dapat dilarutkan (SP/Soluble Powder), formulasi ini hampir sama dengan formulasi WP, tetapi bahan aktif maupun bahan pembawa dan bahan lainnya dalam formulasi ini dapat langsung larut dalam bahan cair sebagai pengencer, yang umumnya adalah air.
  3. Butiran (G/Granular), dalam formulasi pestisida butiran, bahan aktif dicampur dengan, dilapisi oleh atau menempel pada bagian luar dari bahan pembawa yang inert, seperti tanah liat, pasir, atau tongkol jagung yang ditumbuk. Formulasi butiran digunakan langsung dengan menebarkannya tanpa dicampur dengan bahan pengencer. Kadar bahan aktif pada formulasi ini berkisar antara 1 – 40%.
  4. Debu (D/Dust), pestisida dalam bentuk debu terdiri dari bahan pembawa yang kering dan halus, yang mengandung bahan aktif 1 -10 persen, ukuran partikelnya berkisar lebih kecil dari 75 mikron. Formulasi ini biasanya digunakan dengan alat khusus yang disebut duster, aplikasinya tanpa dicampur dengan bahan lain dan dimanfaatkan untuk mengatasi pertanaman yang berdaun rimbun/lebat, karena partikel debu dapat masuk keseluruh bagian pohon.

 

TEKNIK APLIKASI

 

Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai jasad sasaran yang dimaksud, selain juga oleh faktor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan anjuran dosis (Wudianto, 1999).

Wudianto (1999), adapun cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh petani adalah sebagai berikut :

  1. Penyemprotan (Spraying) : merupakan metode yang paling banyak digunakan. Biasanya digunakan 100-200 liter eceran insektisida per ha. Paling banyak adalah 1000 liter per ha sedangkan yang paling kecil 1 liter per ha seperti dalam ULV.
  2. Dusting : untuk hama rayap kayu kering cryptothermes, dusting sangat efisien bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek prilaku trofalaksis.
  3. Penuangan atau penyiraman (pour on) : Misalnya untuk membunuh sarang semut, rayap, dan serangga tanah di persemaian.
  4. Injeksi batang : Dengan insektisida sisitemik bagi hama batang, daun, dan penggerek.
  5. Dipping : rendaman/pencelupan seperti untuk biji/benih Kayu.
  6. Fumigasi: penguapan, misalnya pada hama gudang atau kayu.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu pestisida antara lain;

1.    Dosis Pestisida.

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu aplikasi atau lebih. Sementara dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida tergantung dalam label pestisida. Sebagai contoh dosis insektisida diazinon 60 EC adalah satu liter per ha untuk sekali aplikasi, atau misal 400 liter larutan jadi diazinon 60 EC per ha untuk satu kali aplikasi sedangkan untuk dosis bahan aktif contohnya sumibas 75 SP dengan dosis 0,75 kg/ha (djojosumarto, 2008).

2.    Konsentrasi Pestisida

Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu liter air (atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) tertentu. Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida

  1. Konsentrasi bahan aktif yaitu persentase bahan aktif pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air
  2. Konsentrasi formulasi yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air
  3. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi (Djojosumarto ,2008).

3.    Volume Semprot

Volume semprot adalah banyaknya larutan jadi insektisida yang digunakan untuk menyemprot hama/penyakit per satuan luas atau per satuan individu tanaman.

4.    Bahan Penyampur

Pestisida sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya dinyatakan dalam berat/volume (di Amerika Serikat dan Inggris). Bahan-bahan lain yang tidak aktif yang dicampurkan dalam pestisida yang telah di formulasi dapat berupa:

  1. Solvent adalah bahan cair telarut mis: alkohol, minyak tanah, xyline dan air. Biasanya bahan terlarut ini telah diberi deodorant (bahan penghilang bau tidak enak baik yang berasal dari pelarut maupun dari bahan aktif).
  2. Sinergis adalah sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun walaupun bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji wijen), dan piperonil butoksida.
  3. Emulsifier merupakan bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air (Sastroutomo, 1992).

 

ALAT APLIKASI PESTISIDA

Beberapa alat semprot untuk pengendalian hama / penyakit antar lain:

Knapsack Sprayer

Alat semprot yang sangat meluas digunakan, tidak hanya untuk menyemprot hama, tetapi juga untuk menyemprot gulma, bahkan untuk menyemprot tanaman dengan pupuk cair. Alat ini hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air. Kapasitas tangki antara 15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa tangan dan daya jangkaunya sangat terbatas yaitu        2 meter.

Mist Blower

Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin. Bisa digunkan untuk bahan cairan, tepung dan butiran. Daya jangkaunya ± 10 meter. Kapasitas tengki 14 liter.

Pulsfog

Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin digunakan hanya untuk bahan cair, dimana keluarnya berupa kabut. Penyemprotan dilakukan pada malam hari pada saat kabut sudah mulai turun.

Alat-alat aplikasi pestisida hendaknya selalu di kalibrasi pada waktu yang berkala. Kalibrasi merupakan proses untuk mendapatkan standar dan prosedur yang tepat dalam melaksanakan penyemprotan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pestisida dan kualitas alat semprot, sehingga penggunaan pestisida tidak kurang atau kelebihan. Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah.

  • Kecepatan Jalan

Cara mengukur :

1)      Isi alat semprot dan pompa sambil jalan   sejauh 100 meter

2)      Catat waktu yang dibutuhkan, misal 150 detik  (2,5 menit), jadi kecepatan jalan :

100/2,5  = 40 meter per menit

  • Tekanan semprot sprayer

Tekanan yang biasa digunakan adalah 15 – 20 psi atau 1,0 – 1,5 kg/cm2.

  • Ukuran atau tipe nozzel
  • Polijet merah (lebar semprot 2 m)
  • Polijet biru (lebar semprot 1,5 m)
  • Polijet hijau (lebar semprot 1 m)
  • Polijet kuning (lebar semprot 0,5 m)

Mencari Volume Semprot :

 Volume Semprot = 10.000Xcairan semprot / Lebar semprotXKecepatan

JumlahTangki/Ha :

Jumlah Tangki per hektar = VS per hektar / Kapasitas Tangki 

Kosentrasi Pestisida :

Jumlah Pestisida = Dosis Rekomendasi / Kapasitas Tangki

 

III. PENUTUP

 

Pada dasarnya semua alat yang digunakan untuk mengaplikasikan pestisida dengan cara penyemprotan disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan mekanisme kerjanya, sprayer berfungsi untuk mengubah atau memecah larutan semprot, yang dilakukan nozzle, menjadi bagian-bagian atau butiran-butiran yang sangat halus ( Panut, 2000 ). Dalam penjelasan diatas pada bab II, dapat diketahui bahwa formulasi akan menentukan teknik apliksi dan selanjutnya alat yang digunakan. Selain itu dalam kaitan antara ketiga aspek ini harus dilakukan kalibrasi dari waktu ke waktu untuk menentukan kefektifan dan efesiensi penggunaan pestisida.

 

Tabel 1. Kaitan Formulasi, Teknik Aplikasi, dan Alat yang digunakan

Formulasi

Teknik Aplikasi

Alat Aplikasi Pestisida

Formulasi CairEC

WSC

AC

Penyemprotan, Dipping, Fumigasi, Injeksi  Knapsack Sprayer, Mist Blower, Pulsfog
Formulasi PadatTepung (WP)

Tepung (SP)

Granulair (g)

Debu (D)

Dusting, Pour on(Penaburan) Mist Blower,Penaburan dengan

Tangan dilindungi kaos tangan plastik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Djojosumarto, P., 2000, Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian, Kanisius, Yogyakarta.

Djojosumarto, Panut. 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Sastroutomo Soetikno S., 1992, Pestisida Dasar-Dasar Dan Dampak Penggunaanya, Gramedia, Jakarta.

Sukma,Y. dan Yakup, 1991,  Gulma Dan Teknik Pengendaliannya, Rajawali Press, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UPAYA MENJAGA KEAMANAN PANGAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN DARI RESIDU PESTISIDA

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

UPAYA MENJAGA KEAMANAN PANGAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN  DARI RESIDU PESTISIDA

 

 

 

Disusun Oleh :

KELOMPOK  VI

 1.      Retno Wulandari                              H 0708142

2.      Sekar Utami Putri                             H 0708150

 

 

 

 

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

 

 

 I.       PENDAHULUAN

Peranan Pestisida dalam upaya penyelamatan produksi pertanian dari gangguan hama dan penyakit tanaman masih sangat besar, terutama apabila  telah melebihi ambang batas pengendalian atau ambang batas ekonomi. Namun demikian, mengingat pestisida juga mempunyai resiko terhadap keselamatan manusia dan lingkungan maka Pemerintah berkewajiban dalam  mengatur pengadaan, peredaran dan penggunaan Pestisida agar dapat  dimanfaatkan secara bijaksana.

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan  alam, khususnya kekayaan alam hayati dan supaya Pestisida dapat digunakan  secara efektif, maka ketentuan Pestisida di Indonesia diatur dalam peraturan perundangan seperti :

a)      Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman

b)      Peraturan Pemerintah Nomor  7 Tahun 1973 Tentang Pengawasan Atas Pengadaan, Peredaran dan Penggunaan Pestisida;

c)      Peraturan Menteri Pertanian  Nomor 45/Permentan/SR.140/10/2009, Tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida; dan

d)     Peraturan Menteri Pertanian  Nomor 42/Permentan/SR.120/5/2007, Tentang Pengawasan Pestisida.

Amanat dari peraturan-peraturan tersebut adalah bahwa Pestisida yang beredar, disimpan dan digunakan adalah Pestisida yang telah terdaftar dan mendapat izin dari Menteri Pertanian, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia  dan lingkungan hidup serta diberi label.

Penggunaan Pestisida harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam izin, serta memperhatikan anjuran yang dicantumkan dalam label. Selanjutnya, dalam Peraturan  Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang Perlindungan Tanaman, diamanatkan bahwa penggunaan Pestisida dalam rangka pengendalian Organisme  Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah merupakan alternatif terakhir, dan dampak negatif yang timbul harus ditekan seminimal mungkin serta dilakukan secara tepat guna.

Untuk itu Pemerintah telah menetapkan kebijakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dalam program perlindungan tanaman. Kebijakan PHT ini  merupakan suatu koreksi terhadap usaha pengendalian hama secara  konvensional yang menggunakan Pestisida secara tidak tepat dan berlebihan, sehingga dapat meningkatkan biaya produksi dan merugikan masyarakat serta lingkungan hidup.

II.    Upaya Menjaga Keamanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan  dari Residu Pestisida

 A.     Identifikasi Permasalahan

Berbagai klaim terhadap produk ekspor pertanian Indonesia di banyak negara sudah sering terjadi. Di dalam negeri hal ini tentu saja menimbulkan kerugian besar baik bagi negara, eksportir maupun petani. Sebagai contoh dikenakannya penahanan otomatis (automatic detention) oleh USA terhadap ekspor biji kakao dari Indonesia . Sayuran hasil produksi petani Sumatera Utara ditolak pasar Singapura karena mengandung residu pestisida yang melebihi MRLs (Maximum Residue Limits) yang berlaku di negara tersebut. Buah-buahan Indonesia pernah ditolak memasuki Taiwan karena dikhawatirkan mengandung serangan hama lalat buah. Masih banyak contoh kasus yang sejenis itu, yang menunjukkan sulitnya produk-porduk pertanian memasuki pasar global. Banyak klaim penolakan produk ekspor pertanian Indonesia akibat tidak memenuhi syarat SPS terutama karena adanya serangga, jamur, kotoran serta residu pestisida.

Kasus penolakan produk pertanian Indonesia di pasar luar negeri disebabkan karena kualitas produk pertanian yang diekspor belum dapat memenuhi syarat yang diinginkan oleh negara tujuan ekspor dan standar internasional yang telah ditetapkan bersama oleh negara-negara sedunia yang tergabung dalam WTO. Dengan kemampuan teknologi dan SDM yang dimiliki oleh sebagian besar petani tanaman pangan dan hortikultura di Indonesia kelihatannya sangat sulit memenuhi sayarat yang diminta oleh sistem perdagangan internasional produk pertanian yang berlaku saat ini termasuk dalam melakukan tindakan pengendalian hama .

Dari survai yang dilakukan oleh tim independen yang dibentuk oleh PSA Departemen Pertanian dilaporkan bahwa beberapa komoditas buah (jeruk, jambu biji, semangka, mangga, apel, anggur, strawberry) dan komoditas sayuran (kangkung, bawang merah, cabai, tomat,sawi, wortel, brokoli, paprika, kentang, mentimun, kubis) penggunaan pestisida oleh petani sangat intensif dan cenderung melebihi dosis terutama apabila tingkat serangan hama dan penyakit sangat tinggi.

Karena kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan petani terbatas, mereka kurang memperhatikan dan melaksanakan perlakuan perlindungan pasca panen terutama selama masa penyimpanan dan pengangkutan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas hasil seperti berikutnya sisa-sisa serangga, bekas serangan penyakit, kandungan mikroba berbahaya. Di samping itu seringkali produk ekspor pertanian kita secara sengaja dimasuki kotoran (filthy) atau benda-benda ikutan yang tentu saja sangat menurunkan kualitas dan daya saing produk serta meningkatkan risiko ditolak di pasar global terkena peraturan karantina di negara pengimpor. Masih banyak kasus dan alasan teknis penolakan terhadap produk pertanian kita. Hal ini menunjukkan bahwa kita belum melakukan sosialisasi atau pemasyarakatan pada semua stakeholders mengenai berbagai aspek perdagangan global produk-produk pertanian yang semakin menyulitkan Indonesia dalam memasarkan produk-produk pertanian di pasar global.

Pestisida, logam berat, hormon, antibiotika dan obat-obatan lainnya yang digunakan dalam kegiatan produksi pangan merupakan contoh cemaran kimia yang masih banyak ditemukan pada produk pangan, terutama sayur, buah-buahan dan beberapa produk pangan hewani. Sedangkan cemaran mikroba umumnya banyak ditemukan pada makanan jajanan, makanan yang dijual di warung-warung di pinggir jalan, makanan katering, bahan pangan hewani (daging, ayam dan ikan) yang dijual di pasar serta makanan tradisional lainnya.

Produk pangan impor yang tidak memenuhi persyaratan masih banyak yang beredar di pasaran. Survei tahun 1998 menemukan sejumlah 69,2% tidak mempunyai nomor ML (izin peredaran dari Departemen Kesehatan) dan 28,1% tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa. Ditemukan pula sayuran dan buah-buahan impor yang mengandung residu pestisida yang cukup tinggi serta mikroba dalam jumlah dan jenis yang tidak memenuhi persyaratan pada produk pangan hewani.

B.     Batas Maksimum Residu Pestisida

Pada era perdagangan bebas globalisasi saat ini, Batas Maksimum Residu (BMR) Pestisida sudah merupakan salah satu instrumen hambatan non tarif yang dimanfaatkan oleh banyak negara untuk memperlancar ekspor produk-produk pertanian dan menghambat impor produk-produk pertanian yang sama. Suatu negara akan berusaha untuk semakin menurunkan nilai Batas Maksimum Residu sehingga menyulitkan negara lain untuk memasukkan produk-produk pertaniannya ke negara tersebut. Sebaliknya suatu negara akan berusaha untuk meningkatkan Batas Maksimum Residu dengan menggunakan analisis dan argumentasi ilmiah. Hal ini dimungkinkan karena sesuai dengan ketentuan Perjanjian SPS.

Komisi Codex khusus tentang residu pestisida atau CCPR (Codex Committee on Pesticide Residue) telah menetapkan prosedur ilmiah untuk memperoleh BMRP yang sesuai dengan kondisi setiap negara. Prosedur ilmiah dan hasil kajian negara yang mengusulkan revisi BMRP dibahas dalam pertemuan tahunan CCPR yang diselenggarakan di negara Belanda. Tanpa menguasai dan mendalami prosedur-prosedur Codex, sangat sulit bagi suatu negara untuk dapat ikut mengubah ketetapan Batas Maksimum Residu menurut Codex maupun Batas Maksimum Residu di negara-negaranya masing-masing.

Saat ini, Indonesia telah mempunyai ketetapan BMR Pestisida pada Hasil Pertanian yang dikeluarkan melalui Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor 711/Kpts/TP.27/8/96. Rincian BMRP pada hasil pertanian yang meliputi tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan dan perkebunan baik yang dapat dikonsumsi maupun tidak langsung dikonsumsi dapat dilihat pada Lampiran SKB tersebut. SKB menyatakan bahwa hasil pertanian yang beredar di Indonesia baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri tidak boleh mengandung residu pestisida melebihi BMR yang ditetapkan. Sedangkan hasil pertanian yang dimasukkan dari luar negeri yang mengandung residu pestisida melebihi BMR harus ditolak. Nilai BMR untuk setiap kombinasi komoditi dan jenis pestisida yang tertung dalam SKB tersebut diadopsi dari Hasil Keputusan CCPR pada tahun 1996.

Sayangnya sampai tahun 2004, SKB tersebut di lapangan belum efektif karena masih banyak infrastruktur dan SDM yang belum siap melaksanakan ketentuan BMR tersebut. Upaya pemerintah sekarang adalah merevisi ketetapan BMRP tersebut sesuai dengan keputusan CCPR tahun 2002. Ketetapan BMRP pada produk-produk pertanian yang baru akan diSNI-kan. Konsekuensi dari penerapan BMRP bahwa setiap produk pertanian yang diekspor maupun diimpor harus disertai dengan sertifikat dari suatu laboratorium terakreditasi. Sertifikat tersebut menyatakan berapa besar kandungan residu pestisida yang ada dalam produk yang dipasarkan.

Pada saat ini Indonesia sudah mulai menghadapi hambatan perdagangan non tarif antara lain dalam bentuk Batas Maksimum Residu Pestisida sehingga menyulitkan produk-produk pertanian Indonesia memasuki pasar global. Disamping itu, karena mekanisme pengawasan dan pemeriksaan ketetapan Batas Maksimum Residu di Indonesia belum berjalan, memungkinkan mengalirnya produk-produk pertanian terutama buah-buahan dan sayuran impor yang terjadi pada dewasa ini.

Sistem Pengelolaan Keamanan Pangan

Codex Alimentarius Commission atau sering disebut Komisi Kodeks merupakan komisi yang dibentuk oleh WHO dan FAO yang menentukan standar, pedoman dan rekomendasi internasional yang berkaitan dengan kandungan bahan aditif pada makanan, residu pestisida, obat-obatan veteriner, kontaminan, dan zat lain-lain dalam makanan, metode analisis, pengambilan contoh, kode dan praktek kesehatan.

Program Keamanan Pangan (Food Safety) adalah suatu rangkaian kegiatan dalam pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang dihasilkan bebas dari bahaya-bahaya fisik, kimia, dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu konsumen. Rantai proses pengolahan pangan berjalan sepanjang daur agribisnis dimulai sejak dari budidaya tanaman, penyiapan dan penanganan pangan, pengolahan pangan, penyajian, distribusi sampai dengan penanganan dan penggunaan oleh konsumen. Pada setiap mata rantai tersebut ada kemungkinan timbulnya risiko baik yang bersifat fisik, kimia, maupun biologi yang dapat membahayakan konsumen.

Sistem pengelolaan keamanan pangan yang sudah diakui dan diterapkan secara internasional adalah sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang menekankan pada pengendalian berbagai faktor yang mempengaruhi BAHAN, PRODUK, dan PROSES. Sistem ini bersifat proaktif, ilmiah, rasional, dan sistematis untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang mungkin timbul selama rangkaian proses pengolahan makanan.

Di Indonesia sistem ini diadopsi menjadi SNI 01-4852-1998: Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP) serta Pedoman Penerapannya. SNI tersebut dilengkapi dengan Pedoman BSN 1004-1999 Panduan Penyusunan Rencana Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP). Standar ini merupakan adopsi secera keseluruhan CAC/RCP/-1969, Rev.3(1992)- Recommended International Code of Practice-General Principles of Food Hygiene-Annex: Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) System and Guidelines for Its Application.

Dewasa ini semakin banyak negara pembeli produk pangan yang menuntut adanya penerapan sistem HACCP yang ditunjukkan dengan sertifikat HACCP sebagai jaminan keamanan produk yang dijual. Dengan sertifikat HACCP yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi sistem keamanan pangan yang independen, pihak pembeli akan memperoleh jaminan penerapan sistem keamanan pangan yang konsisten dan bertanggungjawab. Dengan perolehan sertifikat, industri akan mempunyai kemampuan bersaing yang tinggi, memperluas peluang pemasaran, dan meningkatkan citra produksinya. Keuntungan lain adalah berkurangnya atau tidak terjadinya penolakan produk, serta memberikan jaminan kepercayaan pembeli terhadap produk industri.

Menurut SNI 01-4852-1998 Sistem HACCP terdiri dari 7 prinsip yaitu:

  1. Melaksanakan analisis bahaya
  2. Menentukan Titik Kendali Kritis (CCPs)
  3. Menetapkan batas kritis
  4. Menetapkan sistem untuk memantau pengendalian TKK (CCPs)
  5. Menetapkan tindakan perbaikan untuk dilakukan jika hasil pemantauan menunjukkan bahwa suatu titik kendali kritis tertentu tidak terkendali
  6. Menetapkan prosedur verifikasi untuk memastikan bahwa sistem HACCP bekerja secara efektif
  7. Menetapkan dokumentasi mengenai semua prosedur dan catatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip sistem HACCP dan penerapannya.

Standar EUREPGAP (European Good Agriculture Practice) merupakan salah satu standar keamanan produksi dan penanganan buah dan sayuran segar (PSA, 2003) yang dianggap mendekati standar HACCP. Standar teknis yang ditetapkan dalam Eurepgap terdiri dari beberapa judul sbb:

  1. Ketertelusuran
  2. Pencatatan
  3. Varietas dan sumber benih
  4. Riwayat lahan dan Pengelolaan lahan
  5. Pengelolaan tanah dan media tumbuh
  6. Pemupukan
  7. Irigasi
  8. Perlindungan tanaman
  9. Pemanenan
  10. Perlakuan pasca panen
  11. Pengelolaan limbah dan cemaran, daur ulang dan penggunaan ulang
  12. Kesehatan, keamanan dan kesejahteraan pekerja
  13. Isu lingkungan
  14. Formulir pengaduan
  15. Audit internal

Sampai saat ini penerapan HACCP di Indonesia masih dalam tahap sosialisasi dan progam pelatihan untuk para stakeholders. Masih banyak tahapan dan program persiapan penerapan sistem HACCP di Indonesia.

C.     Kebijakan dan Kaidah Penggunaan Pestisida

Peraturan Pestisida

Mengingat pentingnya peranan Pestisida dalam upaya penyelamatan produksi pertanian, Pemerintah berkewajiban untuk mengatur peredaran dan penggunaan Pestisida di Indonesia. Selain itu, Pestisida termasuk bahan berbahaya, sehingga dalam pengaturannya juga mengacu kepada peraturan-peraturan internasional yang disepakati bersama dengan Badan Internasional seperti FAO, WHO, Kesepakatan Protokol Montreal dan sebagainya.

Dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 ditegaskan bahwa :  “Pestisida yang akan diedarkan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib terdaftar, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia dan lingkungan hidup serta diberi label”.

Sedangkan dalam Permentan No. 45/Permentan/SR.140/10/2009 diamanatkan bahwa: “Pestisida yang terdaftar/diijinkan adalah Pestisida yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan kriteria teknis yang ditetapkan Menteri Pertanian”.

 

Kaidah Penggunaan Pestisida

Pengalaman menunjukan bahwa penggunaan Pestisida sebagai racun, sebenarnya lebih merugikan dibanding menguntungkan, yaitu dengan munculnya berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh Pestisida  tersebut. Karena alasan tersebut, maka dalam penggunaan Pestisida harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pestisida hanya digunakan sebagai alternatif terakhir, apabila belum ditemukan cara pengendalian daya racun rendah dan bersifat selektif.
  2. Apabila terpaksa menggunakan Pestisida, maka gunakan Pestisida yang mempunyai daya racun rendah dan bersifat selektif.
  3. Apabila terpaksa menggunakan Pestisida, lakukan secara bijaksana.

Penggunaan Pestisida secara bijaksana adalah penggunaan Pestisida yang

memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu :

1.  Tepat Sasaran

Tentukan jenis tanaman dan hama  sasaran yang akan dikendalikan, sebaiknya tentukan pula unsur-unsur abiotis dan biotis lainnya.

2.  Tepat Jenis

Setelah diketahui hasil analisis agro  ekosistem, maka dapat ditentukan pula jenis Pestisida apa yang harus  digunakan, misalnya : untuk hama serangga gunakan insektisida, untuk tikus gunakan rodentisida. Pilihlah Pestisida yang paling tepat diantara sekian banyak pilihan, misalnya : untuk pengendalian hama ulat grayak pada tanaman kedelai. Berdasarkan Izin dari  Menteri Pertanian tersedia  ± 150 nama dagang insektisida. Jangan menggunakan Pestisida tidak berlabel, kecuali Pestisida botani racikan sendiri  yang dibuat berdasarkan anjuran yang ditetapkan.

3.  Tepat Waktu

Waktu pengendalian yang paling tepat harus di tentukan berdasarkan :

  • Stadium rentan dari hama yang  menyerang tanaman, misalnya stadium larva instar I, II, dan III.
  • Kepadatan populasi yang paling tepat untuk dikendalikan, lakukan aplikasi Pestisida berdasarkan Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi.
  • Kondisi lingkungan, misalnya  jangan melakukan aplikasi Pestisida pada saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik. Lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.Tepat Dosis / Konsentrasi

4.  Tepat Dosis / Konsentrasi

Gunakan konsentrasi/dosis yang  sesuai dengan yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian. Untuk itu bacalah label kemasan Pestisida. Jangan melakukan aplikasi Pestisida dengan konsentrasi dan dosis yang melebihi atau kurang sesuai dengan anjuran, karena dapat menimbulkan dampak negatif.

5.  Tepat Cara

Lakukan aplikasi Pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi Pestisida dan anjuran yang ditetapkan. Memperhatikan bahwa Pestisida  dapat memberikan dampak negatif terhadap manusia maupun lingkungan, maka penggunaan Pestisida harus dilaksanakan secara bijaksana  dengan mentaati ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Prinsip-prinsip penggunaan Pestisida secara bijaksana adalah sebagai berikut :

Menerapkan Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Pestisida Digunakan Sebagai Alternatif Terakhir.

Penggunaan  Pestisida  kimia  hendaknya digunakan sebagai pilihan terakhir, apabila alternatif-alternatif pengendalian lain yang digunakan tidak berhasil. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari/mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dan mengurangi residu.

Pengendalian Hama Dengan Pestisida Dilakukan Berdasarkan

Nilai Ambang Pengendalian (AP) Atau Ambang Ekonomi (AE).     Cara-cara  petani  dalam mengambil keputusan berdasarkan ambang pengendalian atau ambang ekonomi dilakukan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu/SLPHT. Menggunakan Pestisida Yang Terdaftar Dan Diijinkan Menteri Pertanian. Tidak dibenarkan menggunakan Pestisida yang tidak terdaftar dan tidak mendapat ijin Menteri Pertanian, karena tidak diketahui kebenaran mutu dan efektivitasnya serta keamanannya bagi lingkungan.

Menggunakan Pestisida Sesuai Dengan Jenis Komoditi Dan Jenis Organisme Sasaran Yang Diijinkan.

Pemberian ijin Pestisida dilakukan berdasarkan terpenuhinya persyaratan kriteria teknis yang meliputi pengujian fisiko-kimia, pengujian efikasi dan pengujian toksisitas. Dengan demikian penggunaan Pestisida harus sesuai dengan jenis komoditi dan jenis organisme sasaran yang diijinkan.

Memperhatikan Dosis Dan Anjuran Yang Tercantum Pada Label.

Efektivitas penggunaan Pestisida diperoleh melalui penggunaan dosis yang tepat. Ketidak taatan dalam  menggunakan dosis Pestisida dapat menyebabkan resistensi yang akan semakin merugikan petani.

Memperhatikan Kaidah – Kaidah Keselamatan Dan Keamanan

III.  PENUTUP

Pestisida merupakan sarana yang sangat diperlukan guna melindungi tanaman dan hasil tanaman dari gangguan hama dan penyakit yang dapat mendatangkan kerugian bagi petani.  Keberhasilan dalam pencapaian sasaran produksi pertanian tidak  terlepas dari kontribusi penggunaan Pestisida secara tepat, baik waktu, jumlah, jenis maupun mulutnya.

Namun harus disadari bahwa disamping manfaat yang diberikan, Pestisida juga berpotensi menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan, apabila penggunaan tersebut tidak mengindahkan teknologi yang dianjurkan. Oleh karena itu Pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan manfaat yang maksimum dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya.

Dalam Pengendalian Hama Terpadu, pemanfaatan Pestisida merupakan pilihan terakhir apabila teknologi lain tidak dapat menekan serangan OPT. Selain itu penggunaan Pestisida  yang tidak bijaksana sangat merugikan bagi manusia dan lingkungan.

Masalah yang sering dihadapi  dalam penggunaan Pestisida di lapangan adalah tidak tepat jumlah, waktu, dan jenis dalam aplikasi sebagai akibat kurangnya pengetahuan dan kesadaran pengguna dalam aplikasi Pestisida yang benar, efektif dan  efisien. Oleh karena itu penggunaan Pestisida di tingkat petani perlu mendapat perhatian dan pembinaan yang memadai.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian. 2011. Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida.

Untung, Kasumbogo. 2000. Relevansi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, Sanitari Fitosanitari dan Perdagangan Internasional.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1973 Tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida

 

 

MEKANISME MEMBUNUH NEMATODA ENTOMOPATOGENIK PADA SERANGGA HAMA

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

MEKANISME MEMBUNUH NEMATODA ENTOMOPATOGENIK

PADA SERANGGA HAMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

KELOMPOK  V

                                                                                  Pratiwi Noviayanti               H0708137

                                                                                 Puspita Wahyuningsih         H0708138

 

 

 

AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

MEKANISME MEMBUNUH NEMATODE ENTOMOPHATOGENIK PADA SERANGGA HAMA

Senyawa kimia sintetik sampai saat ini selalu diandalkan untuk mengendalikan serangga hama tumbuhan di Indonesia. Pengaruh penggunaan insektisida sintetik yang tidak berjadwal serta kurang tepat akan banyak menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan, antara lain: ketahanan serangga hama (resistensi), peledakan serangga hama sekunder (resurjensi), matinya musuh alami, mencemari air minum, merusak lingkungan dan membahayakan manusia. Dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan kualitas lingkungan hidup yang tinggi, maka pengendalian serangga hama yang bertumpu pada penggunaan pestisida harus ditekan sekecil-kecilnya atau tidak sama sekali, karena akan menimbulkan masalah-masalah yang negatif, seperti yang telah diuraikan diatas. Pengendalian hayati di dalam konsep dasar Pengendalian Hama Terpadu (PHT) memegang peranan yang sangat penting.

Alternatif pengendalian hama yang aman bagi lingkungan dan dapat menekan residu kimia pada produk pertanian adalah dengan memanfaatkan agens hayati seperti nematoda entomopatogen. Nematoda entomopatogen merupakan parasit yang potensial bagi serangga-serangga yang hidup di dalam tanah atau di atas permukaan tanah. Nematoda entomopatogen sangat berpotensi sebagai agens hayati karena bergerak secara aktif mencari inang dan persisten.  Patogen serangga dari golongan nematoda ada dua genus yang telah dikenal yaitu Steinernema dan Heterorhabditis.

Kedua genus tersebut memiliki beberapa keunggulan sebagai agensia pengendalian biologi serangga hama dibandingkan dengan musuh alami lain, yaitu daya bunuhnya sangat cepat, kisaran inangnya luas, aktif mencari inang sehingga efektif untuk mengendalikan serangga dalam jaringan, tidak menimbulkan resistensi, dan mudah diperbanyak. Nematoda Steinernema spp. memiliki kisaran inang yang cukup luas, tetapi aman bagi vertebrata dan jasad bukan sasaran lainnya, dapat diproduksi secara masal baik dalam media in vitro maupun in vivo dengan biaya yang relatif murah, dapat diaplikasikan dengan mudah, serta kompatibel dengan agens pengendali hayati lain. Pada kondisi laboratorium yang optimal Steinernema spp. dapat menginfeksi 200 spesies serangga dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, Hymenoptera, Diptera, Orthoptera dan Isoptera.

Mekanisme Patogenisitas

Mekanisme patogenisitas nematoda entomopatogen terjadi melalui simbiosis dengan bakteri patogen Xenorhabdus untuk Steinernema dan Photorhabdus untuk Heterorhabditis. Xenorhabdus terdiri dari lima spesies, yaitu X. nemathophilus, X. bovienii, X. poinarii, X. beddingii, dan X. japonica dan Photorhabdus hanya memilki satu spesies, yaitu P. luminescens. Infeksi dilakukan oleh stadium larva instar III atau juvenil infektif (JI) terjadi melalui mulut, anus, spirakel atau penetrasi langsung membran intersegmental integumen yang lunak. Setelah mencapai haemocoel serangga, bakteri simbion yang dibawa akan dilepaskan kedalam haemolim untuk berkembangbiak dan memproduksi toksin yang mematikan. Dua faktor ini yang menyebabkan nematoda entomopatogen mempunyai daya bunuh yang sangat cepat. Serangga yang terinfeksi dapat mati dalam waktu 24-72 jam setelah infeksi. Senyawa antimikroba ini mampu menghasilkan lingkungan yang sesuai untuk reproduksi nematoda dan bakteri simbionnya sehingga mampu menurunkan dan mengeliminasi populasi mikroorganisme lain yang berkompetisi mendapatkan sumber makanan di dalam serangga mati. Keadaan demikian memungkinkan nematoda entomopatogen menyelesaikan siklus perkembangannya dan meminimalkan terjadinya pembusukan serangga inangnya. Faktor penentu patogenisitas nematoda entomopatogen terletak pada bakteri mutualistiknya yaitu dengan diproduksinya toksin intraseluler dan ekstraseluler yang dihasilkan bakteri dalam waktu 24-48 jam.

Patogenesitas Xenorhabdus spp. bergantung pada kemampuan masuknya nematoda ke haemocoel serangga inang, juga kemampuan dari bakteri itu sendiri untuk memperbanyak diri di haemolympa serta kemampuannya untuk melawan mekanisme pertahanan serangga inang. Serangga mempunyai ketahanan internal yang berupa senyawa kimia anti bakteri. Senyawa ini menyebabkan terjadinya pengkapsulan nematoda di dalam haemocoel, apabila nematoda tidak berhasil melawan ketahanan serangga inang. Apabila nematoda berhasil menghancurkan senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh serangga, maka nematoda akan berhasil mencapai haemocoel, dapat berkembang menjadi dewasa dan bereproduksi di dalam haemocoel. Senyawa anti bakteri akan dihancurkan oleh enzim ekstraseluler yang dilepaskan oleh nematoda bersamaan dengan saat nematoda melakukan penetrasi ke dalam haemocoel serangga.

Hubungan simbiosis antara nematoda Steinernema carpocapsae dengan bakteri Xenorhabdus nematophilus menunjukkan dua peranan bakteri yaitu sebagai bakteri simbion di dalam tubuh nematoda entomopatogen dan sebagai patogen bagi serangga inang. Beberapa keuntungan dari simbiosis tersebut adalah bakteri dapat mematikan serangga inang dengan cepat, menyediakan nutrisi yang cocok, dan membuat lingkungan yang cocok bagi perkembangan dan reproduksi nematoda. Bakteri simbion mampu memproduksi senyawa antimikroba seperti antibiotik, bakteriosin, dan fages yang dapat menghambat perkembangan mikroorganisme sekunder yang ada di dalam tubuh serangga inang. Selama perbanyakan nematoda, cadangan makanan di dalam bangkai serangga menurun sampai terbentuk dauer juvenil, kemudian bakteri disimpan kembali oleh dauer juvenil.

Gejala dan tanda serangga yang terinfeksi nematoda dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu efek internal, eksternal dan perilaku. Gejala umum yang terjadi adalah serangga akan berhenti bergerak dan makan, lalu terjadi perubahan warna. Kematian serangga akan terjadi secara septisemia dalam waktu beberapa jam sampai tiga hari tergantung temperatur dan spesies nematode.

Contoh: Nematoda Steinernematidae mampu mengendalikan Galleria mellonella, Spodoptera exigua dan Agrotis ipsilon dengan tingkat kematian inang 100% dan menekan populasi Ostrinia nubilalis sebesar 72-100%. Kepadatan populasi 250 JI/ml, S. carpocapsae dapat menyebabkan mortalitas C. borealis sebesar 48%. S. anomali pada kepadatan 200–400 JI/ml dapat menyebabkan mortalitas Anomala dubia sebesar 24–60%. Steinernema spp. pada kepadatan populasi 800 JI/ml dengan media tanah pasir dalam cawan petri dapat menyebabkan mortalitas larva Spodoptera litura instar ke-3 sebesar 100%. Pada instar ke-3 larva S. litura masih memiliki kulit tipis dan lunak serta aktif bergerak mencari makan. Hal ini sangat mendukung terhadap proses penetrasi nematode Steinernema spp. ke dalam tubuh larva. nematoda Steinernema spp. Dalam menyerang inang bersifat pasif, diam dan menunggu inang sampai berada di dekat

DAFTAR PUSTAKA

Sulistyanto, D. 2009. Agensia Hayati Nematoda Entomopatogen sebagai Pengendali Serangga Hama dalam Bidang Pertanian. http://rapidshare.com/files/193183277/DIKTAT_KULIAH_PASCA_UNEJ_2008.doc.html. Diakses tanggal 29 September 2011.

Nasahi, C. 2010. Peran Mikroba dalam Pertanian Organik. http://libang.bantenprov.go.id/. Diakses tanggal 29 September 2011.

Sulistyanto, D. 2009. Agensia Hayati Nematoda Entomopatogen sebagai Pengendali Serangga Hama dalam Bidang Pertanian. http://rapidshare.com/files/193183277/DIKTAT_KULIAH_PASCA_UNEJ_2008.doc.html. Diakses tanggal 29 September 2011.

Nasahi, C. 2010. Peran Mikroba dalam Pertanian Organik. http://libang.bantenprov.go.id/. Diakses tanggal 29 September 2011.

Uhan. 2005. Bioefikasi Nematoda Entomopatogen Steinernema spp. Isolat Lembang terhadap Larva Crocidolomia pavonana (F) Pada Tanaman Kubis di Rumahkaca. J. Hort. 15(2):109-115.

Nugrohorini. 2007. Uji Toksisitas Nematoda Steinernema sp. (Isolat Tulungagung) pada Hama Tanaman Sawi (Brassica juncea) di Laboratorium. J. Pertanian Mapeta. 10(1): 1-6.

Widianingsih, W., N. Asiyah dan I. R. Ridhayat. 2009. Nematoda Entomopatogen Sebagai Komponen Manajemen Dalam Pertanian Organik. PKM-GT. IPB. Bogor.


 

RESEP-RESEP INSEKTISIDA BOTANI YANG EFEKTIF UNTUK BERBAGAI JENIS HAMA TANAMAN PADI

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

RESEP-RESEP INSEKTISIDA BOTANI YANG EFEKTIF UNTUK  BERBAGAI JENIS HAMA TANAMAN PADI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Disusun Oleh :

KELOMPOK  IV  

                                                                            

LAILA NUR MILATI        H0708121

NUNUNG AMBARWATI               H0708133

 

AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS  SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

 

 

 

Resep-resep Insektisida Botani yang Efektif untuk Berbagai Jenis Hama Tanaman Padi

 A.  Pendahuluan

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 – 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.

Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan secara mekanis, kultur teknis, dan kimia. Pengendalian secara mekanis adalah dengan cara menangkap hama yang menyerang tanaman atau membuang bagian tanaman yang terserang hama atau penyakit. Pengendalian secara kultur teknis antara dengan pengaturan kelembaban udara, pengaturan pelindung dan intensitas sinar matahari. Pengendalian secara kimia dengan menggunakan insektisida dan fungsida. Sebaiknya penggunaan insektisida dan fungisida pada budidaya tanaman obat dihindari, dikhawatirkan residu bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi senyawa-senyawa berkhasiat obat pada tanaman. Apabila dibutuhkan dapat digunakan insektisida dan fungisida nabati.

Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Dengan adanya kemajuan dalam bidang ilmu kimia dan pengembangan alat-alat analisis, banyak senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan telah diisolasi dan diidentifikasi bahkan telah disintesis.
Kandungan senyawa-senyawa tumbuhan dapat menunjukkan berbagai macam aktivitas biologi pada serangga seperti penghambatan/penolakan makan, aktivitas penolakan peneluran, aktivitas penghambat pertumbuhan dan perkembangan, dan efek kematian, karena itu bioaktif tersebut dapat digunakan untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).Untuk tanaman padi, hama yang terkenal menyerang tanaman padi adalah hama kresek, hama penggerek batang, hama wereng, keong dan lain sebagainya. Di sini akan dipaparkan lebih dalam terkait berbagai macam insektisida botani yang digunakan dalam membasmi hama tanaman padi.

B.  Resep Insektisida Botani untuk Berbagai Jenis Hama Tanaman Padi

1.    Pengendalian Wereng

a.    Bahan buah kecubung dan akar tuba

Buah Kecubung (Datura metel) 2 buah

Akar tuba 1 kg

Pembuatan dan pemakaian :

Buah kecubung dan akar tuba direbus dengan air sampai mendidih, kemudian didinginkan dan disaring.

Setelah disaring, ambil 1 liter dan diccampur dengan 16 liter air

b.   Srikaya (Annona squamosa), Sirsak (Annona muricata), Mulwa (Annona reticulata)

Famili            : Annonaceae

Ordo : Ranunculales (Ranales)

Srikaya, sirsak, dan mulwa banyak terdapat di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika tropis, Amerika Tengah, dan Karibia. Famili Annonaceae memiliki lebih dari 90 spesies dan lebih kurang 8 – 10 jenis buahnya enak dimakan. Tinggi tanaman srikaya, sirsak, dan mulwa sekitar  4 m. Tanaman ini dapat tumbuh di semua jenis tanah asalkan mendapat air yang cukup dan tidak sampai tergenang air.

Bagian Tanaman yang Berguna untuk Insektisida

Bagian tanaman srikaya, sirsak, dan mulwa yang dapat digunakan sebagai insektisida adalah biji, daun, akar, dan buahnya yang belum masak. Biji tanaman tersebut lebih beracun daripada daunnya.

Resep Pembuatan Insektisida

Sebanyak 500 gram daun mulwa direbus dalam 1 – 2 liter air hingga mendidih dan dibiarkan sampai air tingga seperempatnya. Sisa cairan tersebut disaring dan diccamour dengan 10 – 15 liter air.cairan ini sudah dapat disemprotkan pada tanaman yang terserang hama. Untuk satu hektar lahan diperlukan 5 – 7,5 kg daun mulwa segar.

Sebanyak 500 gram daun mulwa direbus dalam 1 – 2 liter air hingga menjadi kental kemudian disaring. Larutan diambil 250 – 300 ml. Daun tembakau direbus sebanyak 500 gram daun dalam 1 – 2 liter air selama 45 menit lalu disaring. Selanjutnya ditambahkan 250 cc sisa biogas (cairan keputih-putihan yang terdapat di tempat pembuatan biogas) dan 100 gram terusi (CuSO4). Campurkan semua bahan dengan 60 liter air dan disemprotkan pada tanaman yang terserang hama. Larutan ini dapat digunakan untuk lahan seluas 0,4 hektar.

Sebanyak 2 kg daun mulwa digiling sampai halus kemudian ditambah 500 cc air dan diaduk hingga merata. Selanjutnya disaring dan filtratnya dipisahkan. Ambillah 500 gram ccabai rawit dan direndam dalam air semalam.hari berikutnya cabai rawit digiking atau diblender sampai hancur lalu disaring untuk memperoleh ekstrak. Ambillah 1 kg buah nimba yang telah dihancurkan lalu direndam dalam 2 liter air semalam, kemudian disaring. Keempat ekstrak dicampurkan dengan 50 – 60 liter air dan disaring lagi. Bahan ini sudah siap disemprotkan pada tanaman yang terserang hama.

Biji mulwa sebanyak 40 gram yang telah dihancurkan menjadi tepung dicampur dengan 1 liter air. Setelah itu disaring dan disemprotkan pada tanaman yang terserang hama.

Hama yang Dikendalikan

Aphis (bermacam-macam aphis), wereng coklat (Nilaparvata lugens), kutu sisik hijau (Coccus viridis), bermacam-macam ulat, ulat tritip (Plutella xylostella), wereng hijau (Nephotettix virescens), lalat buah laut tengah (Ceratitis capitata), lalat buah asia (Batrocera dorsalis), aphis kentang (Macrosiphum euphorbiae), wereng punggung putih (Sogatella fucifera), kumbang labu merah (Aulachopora foveicollis), kepik hijau, aphis bunga krisan (Macrosiphoniella samborni), dan hama kapas (Dysdercus koeniglii).

c.    Nimba (Azadirachta indica)

Famili            : Meliaceae

Ordo : Rutales

Nimba berasal dari India yang dipakai sebagai obat untuk kesehatan manusia dan sebagai obat insektisida untuk tanaman. Tanaman nimba tersebar di Asia Tenggara, Asia timur, Afrika, Fuji, Mauritius, dan amerika tengah. Tanaman ini dapat tumbuh baik di daerah setengah kering dan setengah basah serta dapat hidup di daerah yang curah hujannya kurang dari 500 mm per tahun.

    Bagian Tanaman untuk Mengendalikan Hama

Biji

Biji yang akan digunakkan sebagai pengendali hama harus dikeringkan terlebih dahulu sehingga tidak menghasilkan racun aflatoxin yang dapat mengurangi pengendalian hama dan sangat beracun pada manusia. Biji nimba dipanen bila buah sudah masak dan warna buah sudah kuning. Jika buah belum masak penuh maka kandungan azadirachtinnya masih rendah. Untuk mendapatkan buah yang bersih dan masak, buah nimba harus dibiarkan hingga rontok sendiri. Buah nimba yang kootor akan terserang jamur yang menghasilkan aflatoxin.

Daun

Daun nimba dapat diperoleh sepanjang tahun dan dalam penyimpanan tidak perlu dilakukan pengolahan. Zat-zat yang terkandung dalam daun nimbba dapat mengendalikan hama terutama adalah zat azadirachtin A dan B. Selain itu daun nimba mengandung salannin dan meliantriol yang mempunyai efek penolak, dan zat nimbin/nimbodin yang mempunyai efek anti virus. Beberapa zat tersebut  saling menyokong sehingga menimbulkan efek sinergistik.

 

Resep Pembuatan Insektisida

Ekstrak daun nimba

Daun nimba sebanyak 1 kg diekstrak dengan penambahan 5 liter air. Daun nimba dipotong kecil-kecil dan direndam semalam dalam air. Hari berikutnya ekstrak disaring dan diberi larutan sabun setiap cc untuk 1 liter ekstrak sebagai perekat. Untuk 1 hektar diperlukan daun nimba sebanyak 80 kg.

Ekstrak campuran untuk mengendalikan aphis, thrips, tungau, belalang, wereng coklat, ngengat pynggung berlian, dan ulat terowongan daun

Daun nimba (Azadirachta indica), rumput citronela (Cymbopogon nardus), dan kencur (Alpinia galanga) masing-masing 1 kg dipotong kecil-kecil kemudian direndam dalam 10 liter air selama satu malam. Selanjutnya larutan disaring dan diencerkan dengan air (perbandingan     1 : 15). Untuk perekat diberi sabun cair. Bila seranganyya hebat, pengenceran dikurangi dan penyemprotan 3 hari berturut-turut. Untuk tanaman padi setiap 15 hari diulangi penyemprotan.

Penggunaan Tepung Biji Nimba

Tepung biji nimba dicampur dengan serbuk gergaji atau tanah liat kering dengan perbandingan 1:1 dan diletakkan di bagian tanaman yang terserang penggerek batang padi. Setiap hektar memerlukan sekitar 6,25 kg tepung biji nimba atau sekitar 12,5 kg campuran biji nimba dan serbuk gergaji. Pencampuran dengan serbuk gergaji dimaksudkan agar tidak terjadi keracunan pada tanaman.

Catatan : jangan menyemprot padi dengan larutan tepung lembaga biji nimba pada periode pembunggan karena bulir padi akan kosong. Disarankan penyemprotan dilakukan 20 – 35 hari sesudah penaburan benih dan disemprot lagi pada waktu bunting, tetapi sebelum penyerbukan.

Hama yang Dikendalikan

Nama Hama Nama Latin
Wereng padi punggung putihWereng coklatWereng hijauUlat tritipUlat terowongan daun jerukUlat tanahUlat grayakTungau

Kumbang badak

Thrips

Hama Kebul

Semut

Penggerak batang pisang

Penggerak batang padi

Lembing

Bubuk beras

Bubuk jagung

Sogatella fucifera NilaparvataNephotettix virescensPlutella xylostellaPhillocnistis citriellaAgrotisspp.Spodoptera lituraTetranychus spp.

Orycetes rhinoceros

Heliothrips spp.

Bemisia tabaci

Semut pada umumnya

Cosmopolites sordidus

Batang padi pada umumnya

Epilachna varivestis

Sitophilus oryzae

Sitophilus zeamais


2.    Pengendalian Penggerek Batang Padi

Bahan :

Daun nimba atau daun tembakau, biji nimba, dan air kencing sapi

Pembuatan dan pemakaian :

  1. Biji nimba kering dan basah ditumbuk halus lalu direndam dalam urin sapi selama 2 minggu.
  2. Ekstrak rendaman diambil dan dicampur dengan air (perbandingan        1 : 8).

3.    Pengendalian Walang Sangit

Bahan :

  1. 10 kg Gadung (Dioscorea hipsida)
  2. 10 kg Jengkol (Pithecellobium lobatum)
  3. 5 kg Pulai (Alstonia scholaris)
  4. 5 kg Pinang (Areca catechu)
  5. 5 kg Brotowali (Tinospora crispa)
  6. 5 kg daun dan buah kecubung (Datura metel)
  7. 3 kg daun Johar (Cassia siamea)
  8. 3 kg daun Gamal (Glirisida sepium)
  9. 0,5 kg kapur sirih

Pembuatan dan pemakaian :

Semua bahan ditumbuh hingga halus kemudian dimasukkan ke dalam drum yang ada tutupnya. Selanjutnya air sebanyak 100 liter dimasukkan dan ditutup rapat selama 2 – 3 minggu sampai bahan membusuk.

Untuk penyemprotan, cairan diambil dan dicampur air dengan perbandingan 1 : 4.

Cara Lain

Bahan :

  1. 2 kg daun gamal (Glirisida sepium)
  2. 2 kg daun ketepeng kebo (Cassia alata)
  3. 2 kg daun koro (Phaseolus lunatus)
  4. 2 kg daun mahoni (Swietenia mahagoni)
  5. 2 kg Brotowali (Tinospora crispa)
  6. Belerang berbentuk tepung sebanyak 0,25 kg
  7. Kapur berbentuk tepung sebanyak 20 kg

Pembuatan dan pemakaian :

Semua bahan dicampur dengan kapur dan belerang lalu ditumbuk hingga halus dan diaduk hingga rata. Selanjutnya bahan dimasukkan dalam tong yang berisi air dan diaduk hingga terendam dan rata, kemudian dibiarkan selama 1 minggu

Setelah 1 minggu diaduk lagi dan disaring. Ampasnya dapat dipakai sevagai pupuk organik sedangkan ekstraknya dipakai untuk mengendalikan walang sangi di sawah.

Untuk menyemprot hama, larutan ditambah air dengan perbandingan    1 : 3

4.    Pengendalian Keong, Keong Mas, Bekicot, dan Siput

Tanaman Mimosaceae, Papilonaceae, dan Caesalpinaceae banyak mengandung saponin, tanin, alkaloid, dll yang dapat meracuni keong. Tepung tanaman sebanyak 3 gram dimasukkan dalam 300 ml air mendidih selama 2 jam dan airnya selalu ditambah supaya tetap 300 ml (konsentrasi 1%). Ait campuran tersebut dapat meracuni keong pada konsentasi 2 %.

5.    Pengendalian Tikus pada Pertanaman Padi

Lombok rawit (Capsicum fruitescens)

Lombok rawit sebanyak 4 kg dicampur dengan 60 liter air kemudian diaduk hingga rata dan disaring. Cairan lombok rawit telah siap untuk disemprotkan pada tanaman seluas 1 acre (4072 m2).

Pepaya (Carica papaya)

Buah pepaya yang belum masak dipotong kecil-kecil kemudian ditaburkan pada tanaman padi. Zat-zat yang ada pada buah pepaya muda dapat menyebabkan luka pada mulut binatang pengerat (tikus). Untuk    1 Ha tanaman diperlukan buah pepaya sebanyak 13 buah.

Jarak pagar (Jatropha curcas)

Biji jarak dicampur dengan minyak kelapa sebagai umpan untuk tikus. Umpan tersebut mengandung bahan aktif yang beracun.

Gamal (Gliricida sepium)

Daun gamal yang telah diinkubasi diberikan sebagai umpan pada tikus. Glicirida mengandung coumarin yang diubah menjadi dicoumerol oleh bakteri yang menyerupai vitamin A. Bakteri ini dapat mengintervensi peranan fisiologis dari vitamin. Persenyawaan tersebut diubah menjadi antikoagulan yang menyebabkan pendarahan pada tubuh tikus. Daun gamal sebanyak 1,5 g diinkubasi tiga kali sehari selama 6 hari kan penyebabkan pendarahan pada usus, paru-paru, dan limpa pada tikus.

Kangkung (Ipomoea fistulosa)

Daun kangkung direbus dalam air kemudian disaring. Biji canthel direbus dalam ekstrak tersebut kemudian diletakkan di dekat terowongan tikus. Tikus yang memakan canthel tersebut akan mati.

Daun mint (Mentha cordifolia)

Daun mint sebanyak 20 gram direbus dalam air kemudian disaring dan disemprotkan pada tanaman padi. Tikus tidak suka baunya sehingga mereka akan menghindar.

C.  Penutup

Insektisida botani yang banyak ditemukan sekarang ini menjawab tantangan global tentang pencemaran lingkungan dan sekitar. Insektisida botani memanfaatkan tanaman lokal untuk mengendalikan serangga, terutama yang menyerang tanaman padi. Memanfaatkan tanaman lokal dengan resep- resep yang tepat akan membantu petani dalam upaya mengendalikan serangga dan sekaligus mengendalikan pengeluaran petani dalam bidang keuangan. Hemat biaya dan lingkungan tetap terpelihara.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pestisida Nabati. www.xtgem.com. Diakses pada tanggal 01 Oktober 2011

Lukitaningsih, Dewi. 2008. Insektisida Alami Atau Pestisida Nabati. www.luki2blog.wordpress.com. Diakses pada tanggal 01 Oktober 2011

Lukitaningsih, Dewi. 2009. Macam- macam Pestisida Alami/ Nabati dan Cara Pembuatannya. www.luki2blog.wordpress.com. Diakses pada tanggal 01 Oktober 2011

Pracaya. 2008. Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Secara Hidroponik. Kanisius.

Sembel, Dantje T. 2010. Pengendalian Hayati. Yogyakarta. Penerbit Andi

 

STUDY BERBAGAI JENIS PESTISIDA YANG BEREDAR DI SURAKARTA (TOKO & DINAS)

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

STUDY BERBAGAI JENIS PESTISIDA YANG BEREDAR DI SURAKARTA

 (TOKO & DINAS)

Disusun oleh :

KELOMPOK  III

1. Ibnati Barroroh       (H0708110)

2. Ida Indriawati         (H0708111)

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARAT

2011

 

 

Keputusan Menteri Pertanian Nomor 949 Tahun 1998

Tanggal : 3 Desember 1998

Ditetapkan di J a k a r t a

pada tanggal 3 Desember 1998

Tentang : Pestisida Terbatas

 

PERATURAN MENTERI PERTANIAN

NOMOR : 01/Permentan/OT. 140/1/2007

TENTANG

DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA YANG DILARANG DAN

PESTISIDA TERBATAS

NO BAHAN AKTIF CAS No
1. 2,4,5-Triklorofenol 93-76-5
2. 2,4,5 Triklorofenol 95-95-4
3. Natrium 4-brom-2,5 diklorofenol 4824-78-6
4. Aldikarb 116-06-3
5. Aldrin 309-00-2
6. 1,2-Dibrom kloropropan(DBCP) 96-12-8
7. Cyhexatin 13121-70-5
8. Dikloro difenil trikloroetan (DDT) 50-29-3
9. Dieldrin 60-57-1
10. 2,3 – Diklorofenol -
11. 2,4 – Diklorofenol -
12. 2,5 – Diklorofenol -
13. Dinoseb 88-85-7
14. Ethyl p-nitrophenyl

Benzenethiophosnate (EPN)

2104-64-5
15. Endrin 106-93-4
16. Etilen dibromida (EDB) 72-20-8
17. Fosfor kuning (Yellow Phosphorus) -
18. Heptaklor 76-44-8
19. Kaptafol 2425-06-1
20. Klordan 57-74-9
21. Klordimefon 19750-95-9
22. Leptopos 21609-90-5
23. Lindan 608-73-1
24. Metoksiklor 72-43-5
25. Mevinfos 26718-65-0
26. Monosodium metan arsonat (MSMA) 2163-80-6
27. Natrium klorat 7775-09-9
28. Natrium tribromofenol -
29. Metil paration 298-00-0
30. Pentaklorofenol (PCP) dan garamnya 87-86-5
31. Senyawa arsen 1327-53-3
32. Senyawa merkuri 10112-91-1

Sumber : http://www.deptan.go.id/bdd/admin/file/Permentan-01-07.pdf

Hasil Survay Berbagai Jenis Pestisida Di Surakarta

  1. Toko Saprodi

a. UD. SAPRODI

Ruko no 12. Dagen Palur. Solo 57772

Jl. Raya Solo Tawangmangu km 6 Palur

  No Jenis Pestisida Bahan Aktif Merek dagang Jenis racun Formu

lasi

Golongan Cara Aplikasi keterangan
  1. Insektisida Fentoat 600 g/l Dharmasan Kontak & lambung 600 EC Organofosfat Disemprot Legal
  2. Insektisida BPMC 480 g/l Bassa Kontak & lambung 500 EC Karbamat Disemprot Legal
  3. Insektisida Sipermetrin 50 g/l Sherpa Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
  4. Insektisida Sipermetrin 50 g/l Ripcord Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
  5. Insektisida Sipermetrin 30g/l Arrivo Kontak & lambung 30 EC Piretroid Disemprot Legal
  6. Insektisida Sipermetrin 100g/l Rizotin Kontak & lambung 100 EC Piretroid Disemprot Legal
  7. Insektisida Sipermetrin 30g/l Yasithri Kontak & lambung 30 EC Piretroid Disemprot Legal
  8. Insektisida Alfa silfemetrin 50g/l Bestox Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
  9. Insektisida Diazinon 600g/l Diazinon Kontak & lambung 600 EC Organofosfat , pirimidin Disemprot Legal
  1o. Insektisida Deltametrin 25g/l Delkis Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
  11. Insektisida Deltametrin 25g/l Decis Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
  12. Insektisida Siflutrin        50 g/l Sniper Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
  13. Insektisida Fipronil 50g/l Regent Kontak & langsung 50 SC Fenil – pirazol Disemprot Legal
  14. Insektisida Dimehipo 400g/l Spontan Sistemik 400 SL Neristoksin Disemprot Legal
  15. Insektisida Klorpirifos 500g/l Nurelle Kontak & lambung 500 EC Organofosfat, piridin Disemprot Legal
  16. Insektisida BPMC 500 g/l Naga Kontak & langsung 500 EC Karbamat Disemprot Legal
  17. Insektisida Karbosulfan 200g/l Marshal Kontak & lambung 200 SC Karbamat Disemprot Legal
  18. Insektisida Fenfalerat 200 g/l Fenval Kontak & lambung 200 EC Piretroid Disemprot Legal
  19. Insektisida Imidakloprid 100g/l Pro Kontak & lambung 100 SC Nitro imidazolidin Disemprot Legal
  20. Insektisida Permetrin 20,04 g/l Pounce Kontak & lambung 200 EC Piretroid Disemprot Legal
  21. Insektisida Flufenoksuron 50g/l Cascade Kontak & lambung 50 EC Urea Disemprot Legal
22. Insektisida Profenofos 500g/l Rumba Kontak & lambung 500 EC Organofosfat Disemprot Legal
23. Insektisida Beta siflutrin 25g/l Buldok Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
24. Insektisida Etofenproks 94,27g/l Trebon Kontak & lambung 95 EC Difenil Disemprot Legal
25. Insektisida Klorpirifos 530g/l dan sipermetrin 53g/l Tarban Kontak & lambung 585 EC Organofosfat Disemprot Legal
26. Insektisida Fenpropatrin 51,75 g/l Propar Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
27. Insektisida Beta sipermetrin 25g/l Chix Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
28. Insektisida Imidakloprid 50g/l Sabuki Kontak & lambung 50 SL Nitro imidazolidin Disemprot Legal
29. Insektisida Lamda sihalotrin 25g/l Matador Kontak & lambung 25 EC Piretroid , trifluo rometil Disemprot Legal
30 Insektisida Bifentrin 24,25 g/l Talstar Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
31 Insektisida Dimetoat 400g/l Kanon Sistemik racun kontak 400 EC Organofosfat Disemprot Legal
32 Insektisida Chlorhirifos 500g/l Ronsha Kontak & lambung 550 EC Organofosfat, piridin Disemprot Legal
33 Insektisida Abamextin 18,49 g/l Agrimec Kontak & lambung 18 EC - Disemprot Legal
34 Insektisida Spinosad 120 g/l Tracer Kontak & lambung 120 SC Biologi Disemprot Legal
35 Insektisida Abamextin 18 g/l Rutin Kontak & lambung 18 EC - Disemprot Legal
36 Insektisida Lamda sihalotrin 106g/l + tiametoksan 141 g/l Alika Kontak & lambung 247 ZC Piretroid +Triazol Disemprot Legal
37 Insektisida BPMC 500g/l Emcindo Kontak & lambung 500 EC Karbamat Disemprot Legal
38 Insektisida Kalbaril 85% Sevin Kontak & lambung 85 SP Karbamat Disemprot Legal
39 Insektisida Merkaptodimetur 50% Mesurol Kontak & lambung 50 WP Karbamat Disemprot Legal
40 Insektisida Tiodicarb 75% Larvin Kontak & lambung 75 WP Karbamat Disemprot Legal
41 Moluskisida Niklosamida 250g/l Niklosan Kontak pernafasan 250 EC Anilida Disemprot Legal
42 Moluskisida Niklosamida 250g/l Snail down kontak 250 EC Anilida Disemprot Legal
43 Fungisida Difenokonazol 250g/l Score Sistemik 250 EC Azol Disemprot Legal
44 Fungisida Epoksikonazol 75g/l Opus Sistemik 75 EC - Disemprot Legal
45 Fungisida Tebukonazol 430 g/l Folicur Sistemik 430 SC Triazol Disemprot Legal
46 Fungisida Fenbukonazol 240 g/l Indar Sistemik 240 SC Triazol Disemprot Legal
47 Fungisida Tebukonazol 25% Folicur Sistemik 25 WP Triazol Disemprot Legal
48 Fungisida Propineb 70% Antracol Kontak 70 WP Karbamat Disemprot Legal
49 Fungisida Benomil 50,4% Masalgin Sistemik 50 WP Benzimidazol Disemprot Legal
50 Fungisida Karbendazim Bavistin Sistemik 50 WP Benzimidazol Disemprot Legal
51 Herbisida Metsulfuron metil 20,05 % Metafuron Sistemik 250 WDG Urea, Triazin Disemprot Legal
52 Herbisida Etil pirazosulfuron 10 % Ti-Gold Sistemik 10 WP Sulfonil urea Disemprot Legal
53 Herbisida Triasulfuron 75% Logran Sistemik 75 WG Sulfonil urea Disemprot Legal
54 Bakterisida Streptomisin sulfat 20% Agrept Sistemik 20 WP Antibiotik Disemprot Legal

b. Toko Sarana Pertanian “RUKUN TANI”

Jl. Lawu no 61 Karanganyar (0271) 6498782

no

Jenis pestisida

Bahan aktif

Merek dagang

Jenis racun

formulasi

Golongan

Aplikasi

Ket

1 Insektisida Profenofos 500g/l Curacron Kontak & lambung 500 EC Organofosfat Disemprot Legal
2 Insektisida Abamektin 18g/l Bamex Kontak & lambung 18 EC - Disemprot Legal
3 Insektisida Alfametrin 15g/l Fastac Kontak & lambung 15 EC Piretroid Disemprot Legal
4 Insektisida Profenofos 500g/l Finsol Kontak & lambung 500 EC Organofosfat Disemprot Legal
5 Insektisida Buprofezin 100g/l Applaud Kontak & lambung 100 EC Tiadiazin Disemprot Legal
6 Insektisida BPMC 500g/l Rahwana Kontak & lambung 500 EC Karbamat Disemprot Legal
7 Insektisida Klorfenapir 100g/l Rampage Kontak & lambung 100 SC Pirol Disemprot Legal
8 Insektisida Imidacloprid 200g/l Delouse Sistemik & kontak 200 SC Nitro  imidazolidin Disemprot Legal
9 Insektisida Sipermetrin 250g/l Megacyper Sistemik 250 EC Piretroid Disemprot Legal
10 Insektisida Etiprol 100g/l Curbix Kontak 100 SL - Disemprot Legal
11 Insektisida Etofenprok 95 g/l Trebon Kontak 95 EC Difenil Disemprot Legal
12 Insektisida Profenofos 520g/l Santacron Kontak & lambung 520 EC Organofosfat Disemprot Legal
13 Insektisida Amitraz 200g/l Rotraz Kontak 200 EC Amidin Disemprot Legal
14 Insektisida Klorpirifos 400g/l Ban-drol Kontak & lambung 400 EC Organofosfat Disemprot Legal
15 Insektisida Sipermetrin 75g/l Sistrin Kontak & lambung 75 EC Piretroid Disemprot Legal
16 Insektisida Dimetoat 400g/l Danadim Kontak & lambung 400 EC Organofosfat Disemprot Legal
17 Insektisida Endosulfan 35g/l Akodan Kontak & lambung 35 EC Organoklor Disemprot Legal
18 Insektisida BPMC 485 g/l Baycarb kontak 500 EC Karbamat Disemprot Legal
19 Insektisida Sipermetrin 100g/l Vigor Kontak 100 EC Piretroid Disemprot Legal
20 Insektisida Tralometrin 36g/l Tralate Kontak & lambung 36 EC Piretroid Disemprot Legal
21 Insektisida Merkaptodimetur 50% Mesurol Kontak & lambung 50 WP Karbamat Disemprot Legal
22 Insektisida Lamda sihalotrin 106g/l + tiametoksan 141 g/l Alika Kontak & lambung 247 ZC Piretroid +Triazol Disemprot Legal
23 Insektisida Abamextin 18,49 g/l Agrimec Kontak & lambung 18 EC - Disemprot Legal
24. Insektisida Lamda sihalotrin 25g/l Matador Kontak & lambung 25 EC Piretroid , trifluo rometil Disemprot Legal
25 Insektisida Dimetoat 400g/l Kanon Sistemik racun kontak 400 EC Organofosfat Disemprot Legal
26. Insektisida Fenfalerat 200 g/l Fenval Kontak & lambung 200 EC Piretroid Disemprot Legal
27. Insektisida Klorpirifos 500g/l Nurelle Kontak & lambung 500 EC Organofosfat, piridin Disemprot Legal
28. Insektisida BPMC 500 g/l Naga Kontak & langsung 500 EC Karbamat Diisemprot Legal
29. Insektisida Deltametrin 25g/l Decis Kontak & lambung 25 EC Piretroid Disemprot Legal
30. Insektisida Siflutrin  50 g/l Sniper Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
31. Insektisida Fipronil 50g/l Regent Kontak & langsung 50 SC Fenil – pirazol Disemprot Legal
32 Insektisida Fentoat      600 g/l Dharmasan Kontak & lambung 600 EC Organofosfat Disemprot Legal
33 Insektisida BPMC        480 g/l Bassa Kontak & lambung 500 EC Karbamat Disemprot Legal
34 Insektisida Sipermetrin 50 g/l Sherpa Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
35 Insektisida Sipermetrin 50 g/l Ripcord Kontak & lambung 50 EC Piretroid Disemprot Legal
36 Insektisida Sipermetrin 30g/l Arrivo Kontak & lambung 30 EC Piretroid Disemprot Legal
37 Insektisida Sipermetrin 100g/l Rizotin Kontak & lambung 100 EC Piretroid Disemprot Legal
38 Fungisida Isoprothiolane 400g/l Fujiwan Sistemik 400 EC Ditiolan Disemprot Legal
39 Fungisida Difenokonazol 250g/l Kendizol Sistemik 250 EC Azol Disemprot Legal
40 Fungisida Mankozeb 80% Dithane Sistemik 80 WP Ditiokarbamat , organomangan, organo-seng Disemprot Legal
41 Fungisida Heksakonazol 50g/l Heksa Sistemik 50 SC Triazol Disemprot Legal
43 Fungisida Difenokonazol 250g/l Score Sistemik 250 EC Azol Disemprot Legal
44 Fungisida Epoksikonazol 75g/l Opus Sistemik 75 EC - Disemprot Legal
45 Fungisida Tebukonazol 430 g/l Folicur Sistemik 430 SC Triazol Disemprot Legal
43 Fungisida Difenokonazol 250g/l Score Sistemik 250 EC Azol Disemprot Legal
53 Herbisida Triasulfuron 75% Logran Sistemik 75 WG Sulfonil urea Disemprot Legal

 

c. Gabungan Kelompok Tani “GAPOKTAN LESTARI LUHUR”

Balong, Jenawi Karanganyar 57794

No Jenis Pestisida Bahan Aktif Merek dagang Jenis racun Formulasi Golongan Cra Aplikasi Ket
1 Insektisida Profenofos 500g/l Curacron Kontak & lambung

500 EC

Organofosfat Disemprot Legal
2 Insektisida Karbosulfan 200g/l Marshal Kontak & lambung

200 SC

Karbamat Disemprot Legal
3 Insektisida Lamda sihalotrin 25g/l Matador Kontak & lambung

25 EC

Piretroid , trifluo rometil Disemprot Legal
4 Insektisida Fentoat 600 g/l Dharmasan Kontak & lambung

600 EC

Organofosfat Disemprot Legal
5 Insektisida Dimetoat 400g/l Kanon Sistemik racun kontak

400 EC

Organofosfat Disemprot Legal
6 Insektisida Sipermetrin 50 g/l Sherpa Kontak & lambung

50 EC

Piretroid Disemprot Legal
7 Insektisida Abamektin 18g/l Bamex Kontak & lambung

18 EC

- Disemprot Legal
8. Insektisida Sipermetrin 30g/l Yasithri Kontak & lambung

30 EC

Piretroid Disemprot Legal
9. Insektisida Dimehipo 400g/l Spontan Sistemik

400 SL

Neristoksin Disemprot Legal
10 Insektisida Profenofos 500g/l Finsol Kontak & lambung

500 EC

Organofosfat Disemprot Legal
11 Insektisida Buprofezin 100g/l Applaud Kontak & lambung

100 EC

Tiadiazin Disemprot Legal
12 Insektisida Imidakloprid 5 % Confidor Kontak & lambung

5 WP

Nitro  imidazolidin Disemprot Legal
13. Insektisida Fipronil 50g/l Regent Kontak & langsung

50 SC

Fenil – pirazol Disemprot Legal
14 Fungisida Isoprothiolane 400g/l Fujiwan Sistemik

400 EC

Ditiolan Disemprot Legal
15 Fungisida Difenokonazol 250g/l Kendizol Sistemik

250 EC

Azol Disemprot Legal
16 Fungisida Mankozeb 80% Dithane Sistemik

80 WP

Ditiokarbamat , organomangan, organo-seng Disemprot Legal
17 Fungisida Tembaga oksida 56% Nordox Kontak

56 WP

Anorganik Disemprot Legal
18 Herbisida Parakuat diklorida 276 g/l Gramoxone Kontak

276 SL

Bipiridilium Disemprot Legal
19 Herbisida Isopropil amina glifosat 480g/l Roundup Sistemik

480 AS

Organofosfat Disemprot Legal

 

2. Dinas Pertanian Surakarta

LAPORAN PENGAWASAN PEREDARAN PESTISIDA TAHUN 2011 DI SURAKARTA

Jenis pestisida

Kemasan

Jumlah stok kg/lt

Penyalur pengecer

Penyalur Petani

Harga (RP)

INSEKTISIDA
Arrivo

100 cc

200 lt

150 lt

50 lt

7.500

Arrivo

250 cc

200 lt

150 lt

50 lt

16.500

Arrivo

500 cc

300 lt

250 lt

50 lt

29.500

Bassa

100 cc

150 cc

100 cc

50 cc

7.500

Bassa

500 cc

100 lt

80 lt

20 lt

30.000

Curacron

100 cc

100 lt

70 lt

30 lt

21.500

Curacron

250 cc

80 lt

50 lt

30 lt

48.500

Curacron

500 cc

50 lt

30 lt

20 lt

90.000

Confidor

100 gr

100 kg

80 kg

20 kg

25.000

Fastak

100 gr

100 lt

80 lt

20 lt

8.000

Furadan

100 cc

1000 kg

800 kg

200 kg

20.000

Kanon

100 cc

100 lt

80 lt

20 lt

8.000

Kanon

400 cc

75 lt

50 lt

25 lt

30.000

Heksa

500 cc

120 lt

90 lt

30 lt

53.500

Lannet

100 gr

150 kg

200 kg

100 kg

14.000

Matador

50 cc

100 lt

80 lt

20 lt

10.500

Matador

80 cc

150 lt

100 lt

50 lt

15.000

Mefindo

100 gr

150 kg

100 kg

50 kg

14.000

Mipcimta

100 gr

50 kg

30 kg

20 kg

6.500

Regent

100 cc

70 lt

50 lt

20 lt

23.500

Ri cord

100 cc

70 lt

50 lt

20 lt

11.500

Score

80 cc

50 lt

30 lt

20 lt

36.500

Applaud

100 cc

200 lt

150 lt

50 lt

12.500

RODENTISIDA
Klerat

1 kg

100 kg

70 kg

30 kg

25.000

Petrukum

100 gr

300 kg

200 kg

100 kg

4.000

FUNGISIDA
Antracol

250 gr

80 kg

50 kg

30 kg

24.500

Antracol

500 gr

150 kg

100 kg

50 kg

48.500

Antracol

1 kg

200 kg

150 kg

50 kg

90.000

Dithane

200 gr

100 kg

60 kg

40 kg

19.500

Dithane

500 gr

150 kg

100 kg

50 kg

44.500

Dithane

1 kg

200 kg

150 kg

50 kg

79.500

 

 

 

 

 

 


 

UPAYA PEMERINTAH INDONESIA MEMINIMALISASI DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN INSEKTISIDA

October 30th, 2011 by Y.V. Pardjo Notosandjojo

UPAYA PEMERINTAH INDONESIA MEMINIMALISASI DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN INSEKTISIDA

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                     Disusun oleh :

                                                                                                                   KELOMPOK  II

Dyah Wahyuningsih             H0708093

Fitha Septi Haryati                H0708101

 

 

 

 

AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

Upaya Pemerintah Indonesia Meminimalisasi Dampak Negatif Penggunaan Insektisida

A.  Pendahuluan

Salah satu strategi pencapaian sasaran produksi untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional diupayakan  melalui mengurangi kehilangan hasil dengan mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan menggunakan varietas unggul, cara mekanis, biologi, kimiawi dan sistem

budidaya yang baik. Namun masih sering dijumpai penggunaan cara kimiawi menjadi pilihan pertama.

Pengendalian cara kimiawi dengan aplikasi pestisida merupakan cara yang paling praktis, ekonomis dan efisien. Namun dampak negatifnya seperti meningkatnya residu serta timbulnya pencemaran lingkungan menjadi masalah yang harus diperhatikan. Hal ini dimaksudkan agar produksi yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional yang memilki kriteria-kriteria yang dipersyaratkan dalam Good Agricultural Practices (GPA). Keberhasilan mewujudkan ketahanan  pangan nasional dan memenuhi kebutuhan ekspor tidak terlepas dari kontribusi penggunaan pestisida yang tepat guna dan bijaksana.

Peranan Pestisida dalam upaya penyelamatan produksi pertanian dari gangguan hama dan penyakit tanaman masih sangat besar, terutama apabila telah melebihi ambang batas pengendalian atau ambang batas ekonomi. Namun demikian, mengingat pestisida juga mempunyai resiko terhadap keselamatan manusia dan lingkungan maka Pemerintah berkewajiban dalam mengatur pengadaan, peredaran dan penggunaan Pestisida agar dapat dimanfaatkan secara bijaksana.

B.  Dampak Negatif Pestisida

 

Dalam Undang-Undang No. 12 tahun  1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang dimaksud dengan  Pestisida adalah zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik, atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Pestisida merupakan bahan yang banyak memberikan manfaat sehingga banyak dibutuhkan masyarakat pada bidang pertanian (pangan, perkebunan, perikanan, peternakan), penyimpanan hasil pertanian, kehutanan (tanaman hutan dan pengawetan  hasil hutan), rumah tangga dan penyehatan lingkungan, pemukiman, bangunan, pengangkutan dan lain-lain. Di samping manfaat yang diberikan, pestisida juga sekaligus memilki potensi untuk dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Pada umumnya pestisida yang  digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tersebut adalah  biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap organisme pengganggu sasaran, tetapi juga dapat memberikan pengaruh yang tidak diinginkan terhadap organisme bukan sasaran, termasuk manusia serta lingkungan hidup.

Keracunan pestisida yang digunakan secara kronik maupun akut dapat terjadi pada pemakai dan pekerja yang berhubungan dengan pestisida, misalnya petani, pengecer pestisida, pekerja pabrik/gudang pestisida, dan sebagainya serta manusia yang tidak bekerja pada pestisida. Keracunan akut terhadap pemakai dan pekerja dapat terjadi karena kontaminasi kulit, inhalasi (pernafasan) dan mulut/ saluran pencernaan, dan apabila mencapai dosis tertentu dapat mengakibatkan kematian.

Keracunan terhadap ternak dan hewan peliharaan.

Keracunan pada ternak maupun hewan peliharaan dapat terjadi secara langsung karena penggunaan  pestisida pada ternak dan hewan peliharaan untuk pengendalian ektoparasit, maupun secara tidak langsung karena digunakan pestisida untuk keperluan lain, misalnya penggunaan rodentisida dengan umpan untuk mengendalikan tikus sawah,  yang karena kelalain petani umpan tersebut dimakan oleh ayam, itik dan ternak lainnya atau pada penyemprotan pada gulma yang menjadi pakan ternak.

Keracunan pada ikan dan biota lainnya.

Penggunaan pestisida pada padi sawah atau lingkungan perairan lainnya dapat mengakibatkan kematian pada ikan yang dipelihara di sawah atau di kolam maupun ikan liar. Karacunan ikan dan biota air lainnya tidak senantiasa menyebabkan kelainan pertumbuhan yang mangakibatkan  perubahan tingkah laku dan bentuk, yang selanjutnya dapat  mengakibatkan terhambatnya perkembangan populasi.

Keracunan terhadap satwa liar.

Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan keracunan yang berakibat kematian pada satwa liar seperti burung, lebah, serangga penyerbuk dan satwa liar lainnya.

Keracunan dapat terjadi secara langsung misalnya akibat penyemprotan pestisida dari udara ataupun  pengguna pestisida untuk perlakuan benih yang diperlukan dimakan oleh burung, maupun tidak langsung terutama melalui rantai makanan..

Keracunan terhadap makanan.

Beberapa pestisida seperti insektisida yang langsung digunakan pada tanaman dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman yang diperlakukan. Penggunaan herbisida yang tidak hati-hati dapat pula mengakibatkan kerusakan pada tanaman yang ditanam pada waktu aplikasi maupun pada tanaman berikutnya yang ditanam setelah tanaman pertama dipanen.

Kematian musuh alami organisme pengganggu

Penggunaan pestisida yang  berspektrum luas dapat mengakibatkan terjadinya kematian parasit dan predator organisme pengganggu. Kemungkinan terjadinya hal tersebut cukup besar apabila pestisida tersebut digunakan tidak secara selektif ditinjau dari segi waktu dan cara.

  1. Dapat menyebabkan timbulnya resistensi (kekebalan), sehingga untuk mengatasi organisme pengganggu yang resisten perlu dosis yang lebih tinggi, hal ini menjadi lebih berbahaya.
  2. Residu Penggunaan Pestisida Khusunya pada tanaman yang dipanen.

Besarnya residu pestisida yang tertinggal di tanaman tergantung pada dosis, banyaknya dan interval aplikasi, faktor-faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi dekomposisi dan pengurangan residu, jenis tanaman yang diperlakukan, formulasi pestisida dan cara aplikasinya, jenis bahan aktif dan persistensinya serta saat aplikasi terakhir sebelum hasil tanaman dipanen.

Pencemaran Lingkungan

Tercemarnya tanah, air, udara dan unsur lingkungan lainnya oleh pestisida, dapat berpengaruh buruk secara langsung maupun tidak langsung terhadap manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Suatu pestisida tertentu  dapat merusak lapisan ozon stratosfir. Pencemaran lingkungan pada umumnya terjadi karena penanganan pestisida yang tidak tepat dan sifat fisiko kimia pestisidanya.

Menghambat Perdagangan

Ekspor komoditi tertentu dari Indonesia dapat diklaim atau diembargo oleh negara tertentu apabila residu pestisida melebihi Batas Maksimum Residu (BMR) yang ditetapkan negara pengimpor atau apabila pestisida tersebut dilarang/ tidak beredar di negara pengimpor.

C.  Upaya pemerintah

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam, khususnya kekayaan alam hayati dan supaya Pestisida dapat digunakan secara efektif, maka ketentuan Pestisida di Indonesia diatur dalam peraturan perundangan seperti :

(1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman;

(2) Peraturan Pemerintah Nomor  7 Tahun 1973 Tentang Pengawasan Atas Pengadaan, Peredaran dan Penggunaan Pestisida;

(3) Peraturan Menteri Pertanian  Nomor 45/Permentan/SR.140/10/2009, Tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida; dan

(4) Peraturan Menteri Pertanian  Nomor 42/Permentan/SR.120/5/2007, Tentang Pengawasan Pestisida.

Amanat dari peraturan-peraturan tersebut adalah bahwa Pestisida yang beredar, disimpan dan digunakan adalah Pestisida yang telah terdaftar dan mendapat izin dari Menteri Pertanian, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia  dan lingkungan hidup serta diberi label. Penggunaan Pestisida harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam izin, serta memperhatikan anjuran yang dicantumkan dalam label. Selanjutnya, dalam Peraturan  Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang Perlindungan Tanaman, diamanatkan bahwa penggunaan Pestisida dalam rangka pengendalian Organisme  Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah merupakan alternatif terakhir, dan dampak negatif yang timbul harus ditekan seminimal mungkin serta dilakukan secara tepat guna.

Untuk itu Pemerintah telah menetapkan kebijakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dalam program perlindungan tanaman. Kebijakan PHT ini merupakan suatu koreksi terhadap usaha pengendalian hama secara konvensional yang menggunakan Pestisida secara tidak tepat dan berlebihan, sehingga dapat meningkatkan biaya produksi dan merugikan masyarakat serta

lingkungan hidup.

Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1986 telah mengeluarkan kebijakan dan tindakan yang dapat membatasi dan mengurangi penggunaan pestisida. Melalui Instruksi Presiden No. 3 Tahun 1986 program penanganan organisma pengganggu tanaman  adalah dengan menerapkan prinsip pengelolaan hama terpadu (PHT) sebagai program nasional, yang merupakan upaya untuk mengantisipasi dampak buruk pemakaian pestisida.

Prinsip-prinsip penggunaan Pestisida secara bijaksana adalah sebagai berikut :

Menerapkan Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu :

Pestisida Digunakan Sebagai Alternatif Terakhir.

Penggunaan Pestisida kimia  hendaknya digunakan sebagai pilihan terakhir, apabila alternatif-alternatif pengendalian lain yang digunakan tidak berhasil. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari/mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dan mengurangi residu.

Pengendalian Hama Dengan Pestisida Dilakukan Berdasarkan

Nilai Ambang Pengendalian (AP) Atau Ambang Ekonomi (AE). Cara-cara petani dalam mengambil keputusan berdasarkan ambang pengendalian atau ambang ekonomi dilakukan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu/SLPHT.

  1. Menggunakan Pestisida Yang Terdaftar Dan Diijinkan Menteri Pertanian.
  2. Menggunakan Pestisida Sesuai Dengan Jenis Komoditi Dan Jenis Organisme Sasaran Yang Diijinkan.
  3. .Memperhatikan Dosis Dan Anjuran Yang Tercantum Pada Label.
  4. Memperhatikan Kaidah – Kaidah Keselamatan Dan Keamanan Penggunaan Pestisida

Mengingat pentingnya peranan Pestisida dalam upaya penyelamatan produksi pertanian, Pemerintah berkewajiban untuk mengatur peredaran dan penggunaan Pestisida di Indonesia. Selain itu, Pestisida termasuk bahan berbahaya, sehingga dalam pengaturannya juga mengacu kepada peraturan-peraturan internasional yang disepakati bersama dengan Badan Internasional seperti FAO, WHO, Kesepakatan Protokol Montreal dan sebagainya.

Dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 ditegaskan bahwa :  “Pestisida yang akan diedarkan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib terdaftar, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia dan lingkungan hidup serta diberi label”.  Sedangkan dalam Permentan No. 45/Permentan/SR.140/10/2009 diamanatkan bahwa: “Pestisida yang terdaftar/diijinkan adalah Pestisida yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan kriteria teknis yang ditetapkan Menteri Pertanian”.

Pemerintah membatasi peredaran pestisida. Berdasarkan sifat fisiko-kimianya, Pestisida diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu:

  1. Pestisida yang boleh didaftarkan :  adalah Pestisida yang tidak termasuk kategori Pestisida dilarang yang  bidang penggunaannya meliputi untuk : pengelolaan tanaman, peternakan, kesehatan hewan, perikanan, kehutanan, penyimpanan hasil, rumah tangga, pengendali vektor penyakit pada manusia, karantina dan pra pengapalan.
  2. Pestisida dilarang  : adalah Pestisida yang berdasarkan klasifikasi WHO mempunyai klasifikasi  Ia  (sangat berbahaya sekali)  atau  Ib (berbahaya sekali),  mempunyai LC50  < 0,05 mg/lt dalam 4 jam paparan, mempunyai indikasi : Karsinogenik, Onkogenik, Teratogenik dan Mutagenik.

Pestisida Terbatas adalah Pestisida yang dalam penggunaannya memerlukan persyaratan dan alat-alat  pengaman khusus di luar yang tertera pada label. Suatu Pestisida digolongkan ke dalam Pestisida terbatas dengan pertimbangan / justifikasi sebagai berikut :

a. Dinilai lebih berbahaya dibandingkan dengan Pestisida umum.

b. Memerlukan kehati-hatian dalam penggunaan.

c. Memerlukan peralatan-peralatan khusus dalam penggunaan.

d. Penggunanya harus cakap dan terlatih.

e. Penggunaannya terbatas hanya mereka yang terlatih.

Dalam pasal 7 Peraturan Menteri Pertanian  No. 45/Permentan/SR.140/10/2009 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida, diatur bahwa :  Setiap orang yang menggunakan Pestisida terbatas wajib memiliki ”Sertifikasi Penggunaan Pestisida Terbatas”. Sertifikat Penggunaan Pestisida Terbatas diberikan kepada orang yang telah “Lulus Pelatihan”  yang diselenggarakan oleh Ketua Komisi Pengawasan Pestisida Provinsi/ Kabupaten/ Kota atau Pejabat yang ditunjuk.

Persyaratan tersebut diberlakukan dengan tujuan untuk melindungi pengguna Pestisida terbatas  terhadap dampak negatif yang dapat ditimbulkan, mengingat tingkat bahayanya yang lebih tinggi dari Pestisida umum. Oleh karena itu, perlu ditekankan agar Pengguna Pestisida terbatas, sebelum mengaplikasikan harus memahami betul beberapa  ketentuan yang di sampaikan pada kegiatan pelatihan, yaitu :

  1. Peraturan dan Perizinan Pestisida Terbatas,
  2. Pemahaman label,
  3. Perawatan dan Pemeliharaan Sprayer,
  4. Kalibrasi,
  5. Penyemprotan yang aman dan efektif,
  6. Penyimpanan Pestisida,
  7. Pemusnahan Pestisida.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1995 Tentang Perlindungan Tanaman pasal 15 ayat 1 menyatakan bahwa dalam pasal ini yang diartikan dengan tepat guna adalah:

  1. Tepat jenis yaitu disesuaikan jenis pestisida yang digunakan dengan jenis organisme pengganggu tumbuhannya, misalnya untuk mengendalikan serangga menggunakan insektisida, mengendalikan cendawan menggunakan fungisida, mengendalikan gulma menggunakan herbisida.
  2. Tepat dosis yaitu banyaknya pestisida yang diaplikasikan persatuan luas atau berat atau volume sasaran disesuaikan dengan rekomendasi yang ditetapkan, misalnya kg/hektar.
  3. Tepat cara yaitu disesuaikan antara bentuk formulasi pestisida dan alat aplikasi yang digunakan, misalnya penyemprotan, perendaman, penaburan, pengolesan.
  4. Tepat sasaran yaitu disesuaikan dengan jenis komoditi tanaman serta jenis dan cara hidup organisme pengganggu tumbuhan yang akan diaplikasi pestisida.
  5. Tepat waktu yaitu pada waktu populasi organisme pengganggu tumbuhan telah mencapai ambang pengendalian dan sebagian besar dalam stadium peka, keadaan cuaca memenuhi syarat.
  6. Tepat tempat yaitu disesuaikan dengan keadaan tempat yang akan diaplikasi pestisida, misalnya lahan kering, lahan berair, rawa, gudang.

Ayat (2) Dalam penggunaan pestisida persyaratan kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, sedangkan persyaratan keselamatan kerja ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.

D.  Penutup

Penggunaan pestisida yang tidak tepat dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, oleh karena itu penggunaan pestisida harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan menekan seminimal mungkin dampak negatif yang ditimbulkan. Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab masyarakat dan Pemerintah, oleh karena itu masyarakat baik secara perorangan ataupun berkelompok perlu memahami usaha perlindungan tanaman sehingga mampu mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dan sedini mungkin untuk menanggulangi serangan organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman, sehingga tidak berkembang menjadi eks-plosi.

 

                                                                                                                      SUMBER :

Girsang, W. 2009. Dampak Negatif Pestisida. http://usitani.wordpress.com/2009/02/26/pht/

Direktorat jenderal prasaran dan sarana pertanian direktorat pupuk dan pestisida kementrian pertanian. 2011. Pedoman penggunaan pestisida.